Beranda Pendidikan Surat Kabar Pertama di Indonesia adalah Medan Priyayi

Surat Kabar Pertama di Indonesia adalah Medan Priyayi

12
0
Surat Kabar Pertama di Indonesia
Unsplash/Anders Nord

Surat Kabar Pertama di Indonesia adalah Medan Priyayi. Butuh waktu ratusan untuk bisa menerbitkan koran ini.

Satu abad lebih setelah Relation (1609) terbit di Straatsburg (Jerman) sebagai surat kabar tercetak pertama di dunia ini, barulah di Indonesia terbit surat kabar tercetak pertama yang diterbitkan oleh Belanda dalam bahasa Belanda dengan nama Bataviasche Nou velles, 7 Agustus 1744.

Bangsa Indonesia sendiri, barulah berhasil menerbitkan surat kabar atau korannya yang pertama dalam bahasa Melayu (Indonesia ), 163 tahun kemudian, ketika Raden Mas Djokomono menerbitkan Medan Priyayi tahun 1907 di Bandung.

Dua tahun kemudian, orang Cina pun di Indonesia juga menerbitkan korannya yang pertama dalam bahasa Melayu dan bahasa Cina di Semarang dengan nama Djawa Tengah (1909).

Dibanding dengan bangsa-bangsa di Eropa yang sudah mengenal surat kabar pada awal abad kel 7, bangsa Indonesia barulah mampu menerbitkan surat kabar pada permulaan abad ke-2O.

Kendatipun Belanda sudah memperkenalkan surat kabar pada akhir abad kel 8 namun peredarannya masih amat terbatas.

Permulaan abad ke-2O, memang barulah dapat dianggap sebagai awal kebangkitan bangsa-bangsa di Asia.

Selama abad ke-18 dan ke-19 penerbitan surat kabar di Indonesia didominasi oleh orang Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda.

Bangsa Inggris yang pernah juga menerbitkan surat kabar di Indonesia menggunakan pula bahasa Inggris.

Setelah terbitnya surat kabar bangsa Indonesia yang berbahasa Melayu, terutama dengan tujuan mengangkat derajat bangsa Indonesia, maka surat kabar di Indonesia tidak lagi didominasi oleh orang Belanda. Kehadiran Pers Nasional, jelas memiliki kepentingan yang sangat berbeda dengan Pers Belanda.

Adanya perbedaan dan bahkan pertentangan kepentingan itu telah menimbulkan penggolongan dalam kehidupan surat kabar di Indonesia.

Ditambah dengan surat kabar Cina yang juga banyak terbit di Indonesia pada awal abad ke-20, maka sampai selesai Perang Dunia II, kehidupan pers di Indonesia, dapat dibagi dalam tiga golongan.

Golongan pertama adalah Pers Kolonial, yaitu surat kabar yang diterbitkan baik oleh kolonialis Belanda, maupun oleh Inggris dan Jepang, yang pada umumnya bertujuan untuk mempertahankan kekuasaannya di Indonesia.

Golongan kedua adalah Pers Nasional surat kabar yang diterbitkan oleh Bangsa 1ndonesia, terutama oleh kaum pergerakan yang pada umumnya anti penjajahan.

Golongan ketiga adalah Pers Cina yaitu surat kabar yang diterbitkan oleh orang-orang Cina yang ada di Indonesia, yang pada umumnya memberi dukungan kepada pemerintah yang berkuasa, dan lebih menjaga kepentingannya sebagai pengusaha atau pedagang di Indonesia.

Jelas ketiga golongan itu terdapat perbedaan kepentingan, sebagai pencerminan keadaan masyarakat pada waktu itu.

Diantara ketiga golongan pers tersebut, Pers Indonesialah yang paling menderita, baik karena tekanan politik dari penjajah, maupun tekanan ekonomi terutama untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Namun kehadiran ketiga golongan pers tersebut, secara tidak sadar telah meluaskan dan mengangkat status bahasa Melayu (bahasa Indonesia).

Untuk mempermudah penyajian tentang sejarah pers di Indonesia, maka uraian ini mengikuti penggolongan tersebut, di atas yaitu Pers Kolonial, Pers Nasional, dan Pers Cina. (*)

Perkembangan Pers dan Politik
Kehadiran Pers di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here