Sejarah Dan Budaya: Agama Tolotang

Gambar Gravatar
towani 0
towani 0
ToLotang Sidrapciri khas. Memakai kopiah hitam
sumber: inspirasimakassar

Mengenal agama ToLotang Sidrap

Tolotang (kadang ditulis Tolottang) yakni suatu kepercayaan yang utamanya dianut di Kabupaten Sidenreng Rappang (disingkat menjadi Kabupaten Sidrap) , Sulawesi Selatan.
Sekitar 5000 warga di wilayah amparita , Kabupaten Sidrap menganut kepercayaan yang sudah turun temurun. Karena pemerintah Indonesia cuma mengakui enam agama , selebihnya dikategorikan selaku Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa , dan penganut Tolotang tidak mau disebut selaku aliran kepercayaan , mereka memadukan diri dengan Agama Hindu. Itulah hingga kini dimengerti dengan nama Hindu Tolotang
Perinyameng%2B%2528Humas%2BSidrap%2529%2B%25E2%2580%2593%2BAcara%2BAdat%2Bkomunitas%2BWarga%2BHindu%2BTowani%2BTolotang%2Bdilaksanakan%2Bdi%2BLingkungan%2BPerriyameng%2BKelurahan%2BBaula%2BKecamatan%2BTellu%2BLimpoe%2BKabupaten%2BSidenreng%2BRappang
Acara Adat komunitas Warga Hindu Towani Tolotang dilaksanakan
di Lingkungan Perriyameng Kelurahan Baula Kecamatan Tellu Limpoe
Kabupaten Sidenreng Rappang , sumber: (Humas Sidrap)
Di Kabupaten Sidenreng Rappang (disingkat menjadi Kabupaten Sidrap) Sulawesi Selatan ada komunitas yang menganut Agama Lokal atau yang disebut selaku agama To Lotang. Mereka sesungguhnya sudah mengenal Tuhan apalagi dulu dari agama pendatang yang mengaku-aku , bahwa merekalah yang memperkenalkan rancangan Tuhan terhadap Masyarakat Bugis secara lazim , sementara Agama-agama dari luar Nusantara ini menyudutkan penduduk yang ber-Agama To Lotang ini , selaku Animisme dan Dinamisme.
Dewata SeuwaE / DewataE (Tuhan Yang Maha Esa) mempunyai Gelar PatotoE (Yang Menentukan Takdir). Esensi kosa-kosa kata sacral tersebut terang ialah aksentuasi pada makna Yang Maha Segala-galanya.
To Lotang atau To Wani ialah perumpamaan yang pertama kali diucapkan oleh La Patiroi , Addatuang Sidenreng VII , untuk menyebut pendatang yang berasal dari arah Selatan , yakni Wajo. Dimana To Lotang terdiri atas 2 (dua) kata yakni kata To (dalam bahasa Bugis yang memiliki arti orang) , dan kata Lotang (dalam bahasa Bugis Sidrap , dengan ucapan Lautang , yakni memiliki arti Selatan – dari arah Lautan).
Masyarakat To Lotang (To Lautang – dari arah Lautan) percaya bahwa insan pertama dibumi ini sudah musnah (Tenggelamnya Atlantis). Adapun insan yang hidup kini yakni insan periode kedua (Setelah Tenggelam-nya Atlantis , Red) ,

Menurut Versi Buku I Lagaligo ceritanya antara lain:

Bacaan Lainnya
Suatu di saat , PatotoE sedang tertidur lelap , sementara tiga pengikutnya (Rukkelleng , Rumma Makkapong dan Sangiang Jung) yang dipercayakan untuk menjaganya , justru mengambil untuk sekejap pergi mengembara ke dunia lain.
Ketika ketiganya hingga di bumi , mereka menyaksikan ada dunia yang masih kosong , dan di saat kembali dari pengembaraannya , ketiga pengikut tersebut menceritakan terhadap PatotoE , tentang pengalaman mereka , bahwa ternyata ada dunia yang masih kosong.
Lalu ketiganya merekomendasikan , biar PatotoE sanggup mewakilkan seseorang untuk tinggal di dunia yang masih kosong tersebut. Ternyata PatotoE sepakat dengan ketiga pengikutnya tersebut , kemudian PatotoE berunding dengan istrinya Datu Palinge , serta seluruh pimpinan di negeri Kayangan.
Setelah istrinya oke , maka diutuslah Batara Guru (yang kini disebut selaku Tomanurung.) turun ke bumi apalagi dahulu.
Setelah beberapa dikala tinggal di bumi , Batara Guru merasa kesepian , Ia memohon biar kiranya sanggup diturunkan satu insan lagi ke bumi , untuk menemaninya.
Oleh karenanya diturunkanlah I Nyili Timo , putri dari Riseleang , yang kemudian dinikahi oleh Batara Guru. Hasil dari komitmen nikah tersebut , melahirkan seorang putra , berjulukan Batara Lettu.
Setelah Batara Letnan Satu sampaumur , ia kemudian dinikahkan dengan Datu Sengngeng , putri dari Leurumpesai.
Dari hasil pernikahannya melahirkan dua anak kembar , Putra dan Putri. Putranya diberi nama Sawerigading , sedangkan Putri-nya diberi nama I Tenriabeng.
Sawerigading kemudian menikah dengan I Cudai , salah seorang putri raja dari Cina , dan melahirkan seorang anak , yang berjulukan Lagaligo.
Pada masa Sawerigading , terciptalah negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi , Toto Titi Tentrem Kerto Raharjo. Penduduk sungguh menghormati perintahnya. Tetapi , sehabis Sawerigading meninggal , penduduk menjadi kacau. Terjadi pergolakan dimana-mana , hingga banyak menelan korban. Peristiwa tersebut menghasilkan Dewata SeuwaE marah. Dewata SeuwaE lantas memerintahkan semua insan biar kembali ke asalnya , maka terjadilah kekosongan dunia (Tenggelamnya Atlantis) untuk kedua kalinya..
Setelah sekian usang dunia kosong , PatotoE kembali mengisi insan di bumi ini selaku generasi kedua. Manusia yang diturunkan oleh PatotoE inilah yang hendak meneruskan kepercayaan yang dianut oleh Sawerigading sebelum dunia dikosongkan oleh PatotoE.
Dalam kepercayaan penganut Tolotang , pedoman Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Esa) itu diturunkan selaku Wahyu pada La Panaungi.
massempe%2Byakni%2Bpertarungan%2Bdalam%2Bbentuk%2Bsepakan%2Bkaki%2Byang%2Bdilakukan%2Boleh%2Banak anak%2Blaki%2Bdidampingi%2Borang%2Btua%2Byang%2Btelah%2Bdituakan
acara budpekerti Hindu Towani Tolotang
massempe yakni pertandingan dalam bentuk sepakan kaki yang ditangani oleh bawah umur laki
didampingi orang renta yang sudah dituakan , Sumber Sumber : Serka Iwan , sidrap
Wahyu yang diturunkan terhadap La Panaungi adalah:

Berhentilah melakukan pekerjaan , terimalah ini yang saya katakan. Akulah DewataE , yang berkuasa segala-galanya. Aku akan menampilkan kepercayaan biar insan selamat di dunia dan hari kemudian.
Tetapi sebelum kuberikan wahyu ini kepadamu , bersihkanlah dirimu apalagi dulu , dan sehabis engkau menemukan wahyu ini , engkau wajib untuk menyebarkannya pada anak cucumu.
Suara itu turun tiga kali berturut-turut , untuk menandakan kepercayaan bahwa itu yakni sungguh-sungguh wahyu yang turun dari Kayangan.
Selanjutnya DewataE menenteng La Panaungi ke tanah tujuh lapis , dan ke langit tujuh lapis untuk menyaksikan kekuasaan DewataE pada dua kawasan , yakni Lipu Bonga , yang ialah kawasan bagi orang-orang yang mengikuti perintah DewataE.
Ajaran yang diterima oleh La Panaungi ini kemudian disebarkan pada penduduk etempat , hingga banyak pengikutnya. Dalam pedoman Tolotang , pengikutnya diwajibkan untuk mengakui adanya Molalaleng yakni keharusan yang mesti dijalankan oleh pengikutnya.
Salah satu keharusan tersebut yakni , Mappianre Inanre , yakni persembahan nasi/makanan yang dipersembahkan dalam ritual , dengan cara menyerahkan daun sirih dan nasi lengkap dengan lauk pauk ke Rumah Uwa dan Uwatta.
Tudang Sipulung , yakni duduk berkumpul bareng mengerjakan ritual pada waktu tertentu , guna meminta keamanan pada Dewata. Sipulung , berkumpul sekali setahun untuk mengerjakan ritual di kuburan I Pabbere di Perrinyameng. Biasanya ditangani sehabis panen sawah tadah hujan.

Tolotang juga mengenal Empat Unsur peristiwa insan , yakni tanah , air , api dan angin.

Dalam program ritual , keempat komponen tersebut disimbolkan pada empat jenis kuliner yang lebih dimengerti dengan perumpamaan Sokko Patanrupa (nasi empat macam).
Nasi Putih diumpamakan Air , Nasi Merah diumpamakan Api , Nasi Kuning diumpamakan Angin , dan Nasi Hitam diumpamakan Tanah. Oleh karenanya , setiap upacara Mappeanre atau Mappano Bulu , sesajiannya berisikan Sokko Patanrupa.
Sebelum La Panaungi meninggal , ia sempat berpesan untuk meneruskan pedoman yang ia terima dari DewataE , dan meminta biar pengikutnya berziarah ke kuburannya sekali setahun. Itulah sebabnya , kuburan La Panaungi banyak diziarahi pengikutnya , tidak cuma pada ritual tahunan saja.
Penganut agama Tolotang ini sempat meningkat , namun pada masa ke-16 , di saat Islam kokoh di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan , jumlah penganut Tolotang condong menurun lantaran nyaris semua kerajaan bugis masuk Islam.
Saat inilah terjadi untuk pertama kalinya Islamisasi di Tolotang. Tetapi berkat ketaatan masyarakatnya terhadap Agama yang dianut oleh Leluhur mereka sebelumnya , maka mereka pun , masih sanggup bertahan hingga kini.
Pada Tahun 1609 , Addatuang Sidenreng , La Patiroi dan mantunya La Pakallongi , secara resmi menemukan Islam selaku agamanya , dan membuatnya selaku agama kerajaan. Pada tahun 1610 di Wajo kerajaan Batu pun masuk Islam sehingga semua rakyatnya diwajibkan masuk Islam.
Saat ini terjadi Islamisasi yang kedua kalinya di wilayah tersebut , yang menimpa Masyarakat To Lotang..
Orang-orang Wani (Berani) semua menolak masuk Islam , sehingga mereka diusir dari kawasan tinggalnya , dan mengungsi ke kawasan lain yang mau menemukan mereka.
Dipimpin oleh I Goliga dan I Pabbere , meninggalkan tanah leluhurnya , Wajo , dan hijrah ke Tanah Bugis lainnya. I Goliga kesannya tiba di Bacukiki , Parepare dan I Pabbere hingga di Amparita , yang kemudian mengadakan Perjanjian Adek Mappura Onrona Sidenreng dengan La Patiroi.
Akhirnya I Pabbere diberikan izin untuk menetap di Loka Popang (susah dan lapar) , sebelah selatan Amparita , dengan syarat :
1. Adat Sidenreng tetap utuh serta mesti dipatuhi
2. Keputusan mesti dipelihara
3. Janji mesti ditepati
4. Suatu keputusan yang sudah berlaku mesti dilestarikan
5. Agama Islam mesti diagungkan dan dijalankan.
Kalau pada tahun 1966 kita mengenal Hinduisasi , pada dikala tersebut di atas terjadi Islamisasi
Setelah rombongan I Pabbere menetap dan bertani di Loka Popang , kemudian nama tersebut diganti dengan nama Perrinyameng , yang memiliki arti sehabis sulit datanglah senang.
Di kawasan inilah , I Pabbere meninggal dunia yang kemudian juga dimakamkan di Perrynyameng.

Dalam Versi Lain dari Buku I Lagaligo :

Dengan Jelas disebutkan , bahwa pendiri Toani Tolotang yakni La Panaungi. Penganut Toani Tolotang ini mengenal adanya Tuhan. Mereka lebih mengenalnya dengan nama Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Esa) yang bergelar PatotoE. (Yang Menentukan Takdir)
Jadi Agama Lokal To Lotang ini , yakni bukan Animisme atau Dinamisme mirip yang sering digembar-gemborkan oleh orang-orang Bugis sendiri yang sudah percaya pada Agama Luar , yang bukan lagi anggota dari komunitas To Lotang tersebut.
Agama Tolotang yakni Agama yang sudah mengenal Tuhan sejak sebelum kedatangan Agama-agama Samawi di wilayah tersebut.

Ajaran Tolotang bertumpu pada 5 (lima) kepercayaan , yakni :

  1. Percaya adanya Dewata SeuwaE , yakni kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa
  2. Percaya adanya hari final zaman yang menandai berakhirnya kehidupan di dunia (Karena mungkin Nenek Moyang Mereka mengalami proses tenggelamnya Atlantis Red.)
  3. Percaya adanya hari kemudian , yakni dunia kedua sehabis terjadinya final zaman (Dari Nenek-nenek Moyang mereka yang selamat dari tenggelamnya Atlantis , mereka memperoleh kabar tersebut Red.)
  4. Percaya adanya akseptor wahyu dari Tuhan
  5. Percaya terhadap Lontara selaku kitab suci Penyembahan To Lotang terhadap Dewata SeuwaE berupa penyembahan terhadap batu-batuan , sumur dan kuburan nenek moyang.
Mungkin perlu diluruskan , bahwa Menyembah terhadap Batu-batuan , Sumur , dan Kuburan Nenek Moyang , yakni Satu Bentuk Arah Sebagai Sarana Konsentrasi. Kaprikornus hal ini jangan menyebabkan kita menghakimi mereka yakni Animisme Dinamisme.
Kalau saya boleh mengajukan pertanyaan , apakah ada Agama di Dunia ini yang tak mempunyai Satu Bentuk Arah Sebagai Sarana Konsentrasi. Kaabah (Sebuah Bangunan) juga ialah Satu Bentuk Arah Sebagai Sarana Konsentrasi.

Dalam penduduk Tolotang terdapat 2 (dua) golongan , yaitu:

  1. Masyarakat Benteng (Orang Tolotang yang sudah pindah ke Agama Islam) , dan 
  2. Masyarakat To Wani To Lotang (Komunitas yang Masih Menganut Agama Tolotang).
Kedua golongan ini mempunyai tradisi yang berlawanan dalam beberapa prosesi ke-Agama-an , misalnya dalam prosesi maut dan pesta pernikahan.
Bagi Komunitas Benteng , sistem prosesi komitmen nikah dan maut sama mirip sistem yang ditangani dalam Agama Islam.
Bagi Komunitas To Wani To Lotang , prosesi maut , lewat prosesi memandikan mayat yang kemudian membungkus dan melapisinya dengan menggunakan daun Sirih.
Sedangkan untuk prosesi komitmen nikah Kelompok To Wani To Lotang. Mereka melaksanakannya di hadapan Uwatta , atau Pemimpin Ritual yang masih ialah keturunan pribadi dari pendiri To Wani To Lotang.
Bagi Masyarakat To Wani To Lotang , ritual Sipulung yang dilaksanakan sekali dalam setahun mengambil kawasan di Perrynyameng yang ialah lokasi kuburan I Pabbere. 
Kelengkapan ritual penduduk To Wani To Lotang , mereka diwajibkan menenteng sesajian berupa nasi dan lauk pauk , yang diyakini selaku bekal di hari kemudian. Sehingga makin banyak sesajian yang dibawa , akan makin banyak pula bekal yang hendak dicicipi di hari kemudian.
Bagi Kelompok Benteng , ritual Sipulung dilaksanakan di sumur PakkawaruE , dimana pada siang hari penduduk berkumpul di kediaman Uwatta dan barulah pada malam harinya , mereka mengerjakan prosesi Sipulung. 
Prosesi Sipulung berupa pembacaan Lontara (Kitab Sucinya orang To Lotang ) oleh Uwatta , dimana penduduk yang datang pada dikala itu menampilkan daun Sirih dan Pinang terhadap Uwatta.
Upacara Adat To Lotang ditangani oleh penduduk To Lotang yang dilaksanakan di Bulu (Gunung) Lowa , berada di poros Kota Pangakajene dengan Kota Soppeng , dan terletak di Amparita Kecamatan Tellu Limpoe. Daerah ini ialah lokasi upacara budpekerti Perrynyameng. Ritual tersebut ditangani sekali setahun (Bulan Januari) , dengan waktu pelaksanaan mesti dimusyawarahkan oleh tokoh-tokoh (Uwa) Tolotang.
acara%2Badat%2Btahunan%2BHindu%2BTowani%2B%2528Tolotang%2529%2Bdi%2BLingkungan%2BPerriyameng%2BKelurahan%2BBaula%2BKecamatan%2BTellu%2BLimpoe%2BKabupaten%2BSidrap
Komandan Komando Distrik Militer 1420 Sidrap , Letkol Inf Jamot Parluhutan.S ,S.Sos
menghadiri program budpekerti tahunan Hindu Towani (Tolotang)
 di Lingkungan Perriyameng Kelurahan Baula Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap
sumber Sumber : Serka Iwan , sidrap
Ritual budpekerti dilaksanakan lantaran adanya pesan dari I Pabbere. Apabila ia sudah tiada , maka anak cucunya mesti tiba menziarahinya sekali setahun. Penyiraman minyak busuk (berbau harum) oleh Uwa , atraksi Massempe (permainan berantem kekuatan kaki) , yang kini cuma ditangani oleh anak-anak.
Semua pengikut sealiran dari aneka macam desa maupun kota , berkumpul dengan Berpakaian Serba Putih-putih , Sarung dan Tutup Kepala , Untuk Para Laki-laki , Sedangkan Untuk Perempuan Mengenakan Pakaian Seperti Kebaya.
Pada dikala ritual , mereka duduk bersila di atas tikar tradisional dengan sarat hikmat dan keheningan , serta fokus pemusatan jiwa dan raga terhadap Sang Pencipta (Dewata SeuwaE). Selanjutnya dilanjutkan dengan penyembahan oleh Uwatta , ditandai dengan penyiraman minyak busuk (minyak berbau wangi-wangian) pada Batu Leluhur yang sungguh disakralkan , kemudian dilanjutkan kesibukan Massempe.
Referensi :
http://tolotang.blogspot.com/2012/06/to-lotan-agama-lokal-yang-selalu-dicoba.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Tolotang
https://www.kaskus.co.id/thread/5aef66e412e2578c0d8b456a/agama-tolotang-di-sidrap/
http://www.rakyatbugis.com/2014/12/pendiri-agama-towani-tolotang-sidenreng.html
https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/komunitas-hindu-tanpa-pura
https://www.kaskus.co.id/thread/51b6b15641cb17d855000001/mengenal-komunitas-penganut-tolotan-di-sul-sel/
https://opini.id/opinistory/read-5217/mengenal-agama-kepercayaan-asli-nusantara
Untitled 3DAYAK

Seorang pakar sosial budaya yang aktif pada berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Telah menempuh pendidikan di salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia yang mengambil jurusan sosial budaya.

Pos terkait