Beranda Berita Pria Tunanetra Nikahi Gadis 12 Tahun di Pinrang

Pria Tunanetra Nikahi Gadis 12 Tahun di Pinrang

45
0
Kisah Pria Tunanetra Nikahi Gadis 12 Tahun di Pinrang
Kisah Pria Tunanetra Nikahi Gadis 12 Tahun di Pinrang.

Seorang pria tunanetra me-nikahi gadis cantik berusia 12 tahun berinisial FH, di Pinrang. Kabar bahagia ini viral di media sosial.

Dari sejumlah sumber yang berhasil ditemui, mengatakan gadis 12 tahun tersebut tinggal bersama ibu dan ayah tirinya.

Adapun pria tunanetra yang beruntung me-nikahi gadis 12 tahun tersebut, diketahui bernama Baharuddin. Usianya kini sudah 44 tahun.

Pernikahan kedua mempelai beda usia tersebut sudah berlangsung di Kampung Lamajjakka, Watang Pulu, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan pada Selasa (30/6/2020.

Siapa Baharuddin?

Baharuddin adalah seorang warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dia seorang pria yang mengalami keterbatasan fisik alias tunanetra.

Dari sejumlah sumber yang diperoleh, Baharuddin sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat terapi. Meski begitu, FH tak mempersoalkannya dan membeberkan sama sekali tak ada paksaan atas pernikahan ini.

Keduanya menikah karena suka sama suka dan malah sempat berpacaran hingga akhirnya memutuskan menikah.

BACA JUGA :   Makanan Khas dan Tempat Wisata Pinrang, Terlupakan?

KUA Menolak Menikahkan

Meski pernikahan ini tak disepakati oleh kantor urusan agama (KUA) di Suppa, namun kedua mempelai dan keluarga besar tetap ngotot menikahkan.

Acara pernikahan pun berlangsung cukup sederhana di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 ini dan masing-masing keluarga tampak berbahagia.

Status Pernikahan

Secara Hukum Negara. Sebuah perkawinan dianggap sah menurut negara, apabila kedua pasangan sudah tercatat atau terdaftar di Kantor Urusan Agama atau Kantor Catatan Sipil.

Dan selama perkawinan yang sudah berlangsung tersebut belum terdaftar, maka dianggap belum sah secara hukum negara Indonesia.

Meskipun perwakinan itu dilaksanakan secara hukum agama dengan memenuhi rukun-rukunnya atau dalam hal ini memenuhi prosedur dan tata cara Agama.

Terkait ketentuan pencatatan nikah ini sudah diatur dalam undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Tepatnya pada pasal 2 ayat 2 dan kompilasi hukum Islam Pasal 5 ayat 1.

BACA JUGA :   Taufan Pawe Terpilih Ketua DPD I Golkar Sulsel, Berikut Foto-Fotonya

Bunyinya: Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat.

Artinya, jika selama kedua mempelai belum tercatat di KUA maka hampir bisa dipastikan mempelai tak akan memiliki buku nikah.

Buku nikah ini sangat penting sebab menjadi bukti otentik bahwa pernikahan yang sudah berlangsung memiliki keabsahan. Baik itu secara agama maupun Negara Indonesia.

Konsekuensi terbesar jika belum terdaftar atau tidak memiliki buku nikah, maka nantinya akan berimbas pula pada keturunannya kelak.

Utamanya kepada sang anak untuk memberikan hak-haknya. Karena sang anak sendiri yang dilahirkan oleh ibunya itu, juga tak akan diakui oleh negara.

Ketakutan terbesar adalah apabila terjadi pengingkaran dikemudian hari. Misalnya, jika nantinya ada salah satu orang tua ayah atau ibu yang ingkar atau lepas tanggung jawab maka secara hukum tak bisa dihukumi.

BACA JUGA :   Wow, Spiderman Black Berbagi Nasi Box di Pinrang

Pasalnya, tak ada bukti konkrit untuk menuntut mereka jika buku nikah tersebut tak ada. Apalagi jika dimintai pertanggungjawaban untuk memenuhi hak-hak sang anak.

Secara Agama

Adapu apabila pernikahan ditinjau dari segi keagamaan, maka pernikahan tersebut sah. Sebab, menurut agama terdaftar tidaknya di KUA atau lembaga keagamaan itu hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan administrasi perkawinan.

Olehnya itu, syarat kenegaraan tersebut tidak menentukan sah atau tidaknya suatu hubungan suami istri. Meski begitu, agama tetap menganjurkan agar sebaiknya pencatatan pernikahan dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku dalam negara tersebut. (*)

Rujukan:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974
2. Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Jurnal Kepenghuluan Volume 1 Nomor 1 Juli-November 2015. (Makassar : Kemenag, 2015.
3. Ahmad, Dodi. Nikah Siri Yes or No. Jakarta: Lintas Pustaka, 2008.

Tinggalkan Komentar