Peningkatan Pembelajaran Descriptive Text dengan Menggunakan Model Discovery Learning

Peningkatan Pembelajaran Descriptive Text dengan Menggunakan Model Discovery Learning
Hasdah Purnama Sakti, S.Pd menjelaskan Pembelajaran Descriptive Text dengan Menggunakan Model Discovery Learning

 

Peningkatan Pembelajaran Descriptive Text dengan Menggunakan Model Discovery Learning Yang Berorientasi Hots pada Kelas VII.A SMP Negeri 22 Makassar

Oleh: Hasdah Purnama Sakti, S.Pd

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan hendaknya mampu menghasilkan individu yang mampu menghadapi tantangan abad ke-21.

Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 ditegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Supriano, menyatakan bahwa kunci proses pembelajaran yang baik dan benar di sektor pendidikan adalah peran para guru, dalam Nur Rahayu, Risna (2019).

Selama ini program pengembangan kompetensi guru berdasarkan hasil uji kompetensi, yang lebih memfokuskan pada peningkatan kompetensi guru terutama dalam kompetensi pedagogi dan profesional.

Namun seiring meningkatnya tantangan peningkatan mutu pendidikan, perlu dilakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan guru yang bermuara pada hasil peserta didik.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas siswa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Ditjen GTK menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP).

“Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), Menurut Supriano dalam Nur Rahayu, Risna(2019).

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi.

Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK), yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, dapat terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru.

Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

B. Jenis Kegiatan

Adapun jenis kegiatan pada best practice ini adalah kegiatan pembelajaran descriptive text menggunakan model pembelajaran Discovery Learning yang berorientasi HOTS yang telah terbukti membuat proses pembelajaran di kelas VII A menjadi lebih baik.

Manfaat Kegiatan

Manfaat yang didapatkan dari pelatihan program PKP dan penerapan di sekolah adalah:

Bagi Peserta Didik kelas

  1. Siswa menjadi lebih siap untuk belajar bahasa asing khususnya Bahasa inggris melalui kegiatan pembelajaran Descriptive Text dengan menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning berorientasi pada keterampilan HOTS.
  2. Dengan Menggunakan strategi model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap pembelajaran text khususnya teks deskriptif.

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Tujuan dan Sasaran

1. Tujuan

Adapun tujuan penulisan best practice ini adalah untuk mendeskripsikan best practice penulis dalam Penerapan Pembelajaran berorientasi pada keterempilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skills/HOTS), dengan menggunakan Model Discovery learning pada peserta didik kelas VII.A SMPN 22 Makassar adalah:

a. Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dengan menggunakan model Discovery Learning peserta didik dapat mengidentifikasi dan mengnalisisteks repot dengan tulisan dan lisan, atau menulis dan berbicara, sehingga menghasilkan hasil belajar peserta didik yang baik.

b. Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik pada materiteks, terutama materi Report text.

c. Untuk meningkatkan kompetensi peserta didik dalam pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thingking Skills/HOTS).

d. Untuk mewujudkan kualitas pendidikan untuk semua peserta didik.

e. Untuk mengetahui bagaimana respon peserta didik dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui hasil belajar.

2. Sasaran

Adapun sasaran penulis adalah peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 22 Makassar tahun pelajaran 2019-2020, sebanyak 32 Orang.

B. Bahan dan Materi Kegiatan

Bahan yang digunakan dalam best practice pembelajaran ini adalah materi Descriptive Text, kelas VIIA dengan menggunakan model pembelajaran Discovery learning.

BAB III

HASIL KEGIATAN

A. Hasil Kegiatan

Hasil yang dapat dilaporkan dari Best Practice ini diuraikan sebagai berikut:

  1. Proses pembelajaran ini menerapkan model Discovery Learning dandengan metode Presentasi, peserta didik menjadi lebih aktif dan menumbuhkan saling bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh pendidik. Aktivitas model pembelajaran dengan metode ini menerapkan peserta didik untuk aktif selama proses pembelajaran.
  2. Pada pembelajaran sebelumnya penulis belum menerapkan pembelajaran HOTS, masih menggunakan metode ceramah dan banyak menulis di papan tulis, peserta didik selama proses pembelajaran cenderung kurang aktif walaupun tujuan pembelajaran tercapai. Sedangkan jika di terapkan dengan pembelajaran HOTS dan dengan metode Presentasi peserta didik menjadi lebih biasa berfikir kritis selama kegiatan diskusi dan menjadi lebihber tanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya karena akan dibandingkan dengan hasil kelompok lainnya.
  3. Dengan menerapkan pembelajaran HOTS juga peserta didik dilatih untuk memecahkan masalahnya sendiri atau problem solving untuk menyelesaikan LKPD yang disediakan oleh pendidik maupun dikaitkan dengan penerapan kehidupan sehari-hari para peserta didik.

B. Masalah yang dihadapi

Masalah yang dihadapi selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode Presentasi yang berorientasi HOTS adalah peserta didik masih belum terbiasa karena peserta didik terbiasa dengan menggunakan metode kerja LK di tempat duduk masing-masing tanpa ada kolaborasi antar sesama peserta didik di dekatnya jadi pendidik masih terus mengarahkan peserta didik untuk melatih dan menggali informasi sehingga alokasi waktu yang dibutuhkan tidak sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah dibuat.

C. Cara mengatasi masalah

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi penulis dalam pembelajaran ini adalah harus lebih sadar melatih dan mengarahkan peserta didik untuk menyelesaikan masalah (Problem Solving) dan mandiri dalam mencari informasi yang dibutuhkan pada saat proses pembelajaran.

Selain itu juga peserta didik diberikan arahan betapa pentingnya model pembelajaran yang berorientasi HOTS di jenjang sekolah yang akan datang ketika mereka sudah lulus SMP dan untuk kehidupan sehari-hari.

BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pembelajaran dengan model. Discovery Learning dan dengan metode Presentasi layak di jadikan sebagai pembelajaran yang berorientasi Higher Order Thinking Skill (HOTS) karena dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta didik dalam mentransfer pengetahuan, berfikir kritis, dan menyelesaikan masalah.
  2. Pada penyusunan RPP pun dibuat secara sistematis dan cermat yang di dalamnya berorientasi HOTS dan terdapat kecakapan abad 21 yang memuat PPK dan Literasi.

B. Rekomendasi

Berdasarkanhasil pembelajaran yang telah dilakukan, berikut disampaikan rekomendasi yang relevan;

  1. Pendidik seharusnya memiliki inovasi model pembelajaran yang lebih menyenangkan sehingga peserta didik tidak terpaku hanya dengan 1 model pembelajaran saja dan memiliki banyak referensi sumber belajar yang lain tidak hanya buku pendidik dan peserta didik yang akan menunjang kemampuan profesional pendidik pada saat proses pembelajaran.
  2. Peserta didik diharapkan untuk menerapkan kemampuan berfikir kritis dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu peserta didik menguasai materi secaralebih mendalam.
  3. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana dan prasarana yang memadaiuntuk berlangsungnya pembelajaran HOTS dan untuk merekomendasikan Best Practice ini agar menambah wawasan pendidik lain tentang pembelajaran HOTS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.