Beranda Pendidikan Pengertian Fonologi Hingga Fonem Bahasa Indonesia

Pengertian Fonologi Hingga Fonem Bahasa Indonesia

0
Bahasa Pengertian Fonologi
Unsplash/Anuja Mary Tilj

Pengertian Fonologi

Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Fonologi merupakan salah satu cabang tata – bahasa. Fonologi disebut juga tatabunyi.

Secara garis besar fonologi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

a. Fonetik, adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur serta bagaimana alat ucap manusia menghasilkan bunyi tersebut. Fonetik disebut juga ilmu bunyi.

b. Fonemik, adalah ilmu yang mempelajari bunyi ujaran yang berfungsi membedakan arti. Fonemik disebut juga ilmu fonem.

Bunyi Bahasa

Bunyi bahasa adalah bunyi yang bermakna yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jumlah bunyi bahasa amat banyak.

Secara garis besar bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

a. Fonem, adalah kesatuan bunyi bahasa yang terkecil dan berfungsi sebagai pembeda arti. Fonem dipelajari dalam fonemik.

Contoh :

r dan t pada pasangan kata mari dan mati
a dan u pada pasangan kata dayang dan dayung
r dan s pada pasangan kata luar dan luas
f pada pasangan kata tara dan taraf
p pada pasangan kata indah dan pindah

b. Fona, adalah bunyi bahasa yang tidak menimbulkan perbedaan arti. Fona dipelajari dalam fonetik.

Contoh :

h pada pasangan kata nona dan nonah
k pada pasangan kata bapa dan bapak
O dan u pada pasangan kata korban dan kurban

Dalam menghasilkan bunyi bahasa. diperlukan beberapa faktor yaitu:

a. Udara sebagai bahan yang kita bentuk menjadi bunyi bahasa.

b. Artikulator, ialah alat-alat ucap manusia yang menghasilkan bunyi bahasa, seperti bibir bawah, gigi bawah, lidah dan sebagainya.

c. Titik artikulasi, ialah alat-alat ucap manusia yang dalam menghasilkan bunyi merupakan titik sentuh artikulator.

Titik artikulasi disebut juga daerah artikulasi. Misalnya : bibir atas, gigi atas, langit-langit keras, langit-langit lunak, dan sebagainya.

Macam-Macam Alat Ucap Manusia

Macam-Macam alat ucap manusia dan bahasa manusia
Macam-Macam alat ucap manusia.

Keterangan Gambar:
1. rongga hidung
2. rongga mulut
3. batang tenggorok
4. bibir
5. gigi
6. lengkung kaki gigi
7.langit-langit keras
8. langit-langit lunak
9. anak tekak
10. lidah
a. ujung lidah
b. daun lidah
c. belakang lidah
11. pita suara
12. rongga tekak

Pita Suara

Pita suara termasuk alat ucap manusia yang terdapat pada ujung atas pangkal tenggorok.

Alat ucap ini sering mengalami perubahan posisi dalam menghasilkan bunyi. Posisi pita suara itu diantaranya:

BACA JUGA :   Definisi Uang Menurut Ahli Serta Pembahasannya

a. Pita suara terbuka Iebar

Bila posisi pita suara terbuka lebar dihasilkan konsonan /h/.

b. Pita suara terbuka sedikit bagian alas

Bila posisi pita suara terbuka sedikit bagian atas dihasilkan dua macam konsonan.

Bila pita suara ikut bergetar, terbentuklah konsonan bersuara: /b/, /d/, /g/, /j/, /z/, dan sebagainya.

Sedangkan bila pita suara tidak ikut bergetar, terbentuklah konsonan tak bersuara: /p/, /c/, /k/, /s/, dan sebagainya.

c. Pita suara terbuka sedikit bagian bawah

Bila posisi pita suara terbuka sedikit bagian bawah dihasilkan semua konsonan seperti dalam

posisi pita suara terbuka sedikit bagian atas, hanya saja dalam keadaan lemah.

Ini terjadi ketika kita sedang berbisik-bisik.

d. Pita suara tertutup rapat

Bila posisi pita suara tertutup rapat terbentuklah konsonan hamzah /?/

Fonem Bahasa Indonesia

Telah disebutkan di atas, bahwa fonem merupakan kesatuan bunyi bahasa yang terkecil dalam fungsinya sebagai pembeda makna.

Secara garis besar, fonem bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu vokal dan konsonan.

Vokal

Vokal adalah bunyi bahasa yang dihasilkan tanpa hambatan.

Maksudnya, ketika udara dari paru-paru keluar melalui rongga mulut tanpa mengalami rintangan. Ada bcrmacam-macam vokal.

a. Menilik cara pengucapannya, vokal dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

– vokal tunggal: a, i, u, o, e, (taling), dan e (pepet). Vokal tunggal disebut juga monoftong.

– vokal rangkap: ai, au, dan oi. Vokal rangkap disebut juga diftong.

b. Menilik posisi bibir pada waktu mengucapkan vokal, vokal dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

– vokal bundar : a, u, dan o
– vokal tak bundar : e dan i

c. Menurut tinggi rendahnya lidah, vokal dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

vokal atas : i dan u
vokal tengah : e dan o
vokal bawah : a

d. Menurut maju mundur lidah, vokal dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
– vokal depan : i dan e (taling)
– vokal pusat : 3 dan e (pepet)
– vokal belakang : u dan o

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, dapat diperhatikan diagram vocal di bawah ini.

Diagram vocal dalam bahasa
Diagram vocal

Konsonan

Bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mendapat hambatan disebut konsonan.

Maksudnya udara dari paru-paru keluar dengan mengalami rintangan. Sebagaimana vokal, konsonan ada bermacam-macam.

BACA JUGA :   Ciri-Ciri Berita dan Tips Membaca Berita

a. Menurut jalan yang dilalui udara ketika keluar dari paru-paru, konsonan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
– Konsonan oral: b, c, d, f, g, h, j, k, l, p, q, r, s, t, u, v, x, y, z.
– Konsonan nasal: m, n, ng, ny

b. Menurut ikut tidaknya pita suara bergetar, konsonan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

– Konsonan bersuara: b, d, j, g, n, ng, m, z, l, r, w, y

-Konsonan tak bersuara: p, t, c, k, s, sy, kh, h, f

c. Menurut titik artikulasinya, konsonan dapat dibedakan menjadi delapan macam, yaitu:

– Konsonan bilabial: b, p, dan m
– Konsonan labiodental: f dan v
– Konsonan apiko interdental: n dan t
– Konsonan apiko alveolar: d dan n
– Konsonan palatal: c,j,dan ny
– Konsonan velar: k,g,kh,dan ng
– Konsonan hamzah : ?
– Konsonan laringal: h

d. Menurut hambatannya, konsonan dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu:

– Konsonan hambat: b, d, c, g, j,k,p, dan ?
– Konsonan frikatif: v,f,kh,dan h
– Konsonan spiran: s,sy,dan z
– Konsonan lateral: l
– Konsonan tril: r

Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, baiklah kita perhatikan diagram konsonan di bawah ini.

Diagram Konsonan dalam bahasa Indonesia
Diagram Konsonan

6. Intonasi dalam Bahasa Indonesia

Kerja sama antara tekanan, nada, jeda, dan tempo yang menyertai suatu ujaran dari awal sampai akhir disebut intonasi.

Karena intonasi itu menyertai ujaran, sudah barang tentu intonasi ini berhubungan dengan kalimat.

Intonasi dapat menyebabkan terjadinya perbedaan arti kalimat.

Menurut batasan di atas, intonasi merupakan perpaduan beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut saling membahu dan saling berkaitan.

Oleh karena itu, di dalam ujaran tidak pernah terjadi satu unsur terlepas dari unsur yang lain.

a. Tekanan

Tekanan terjadi karena adanya keras lembutnya suara dalam suatu ujaran. Dalam bahasa Inggris, misalnya tekanan ini meliputi tekanan kata dan kalimat.

Sedangkan dalam bahasa Indonesia tekanén kata tidak pernah ada. Hanya tekanan kalimatlah yang terdapat dalam bahasa kita.

Tekanan kalimat berfungsi sebagai pembeda arti. Artinya, dengan adanya perbedaan tekanan dalam suatu kalimat akan menyebabkan makna kalimat tersebut berbeda pula.

Contoh:

– Bambang mclembaca novel. (bukan Rudi)
– Bambang membaca novel. (bukan membeli)
– Bambang membaca novel. (bukan komik)

BACA JUGA :   Ejaan Bahasa Indonesia, Arti dan Perkembangannya

Dari contoh di atas jelaslah bahwa dengan adanya perbedaan tekanan, berbeda pula makna kalimatnya.

b. Nada

Tinggi rendahnya suara dalam suatu ujaran akan membentuk nada.

Sebagaimana tekanan, nada juga berfungsi sebagai pembeda arti. Nada sifatnya relatif.

Secara garis besar nada kita bedakan menjadi empat, yaitu: nada rendah, nada normal, nada tinggi, dan nada tinggi sekali.

Agar mendapat gambaran yang lebih jelas nada-nada tersebut secara berturut-turut kita lambangkan dengan angka 1, 2, 3, dan 4.

angka 1 : nada rendah
angka 2 : nada normal
angka 3 : nada tinggi
angka 4 : nada tinggi sekali

Perhatikan contoh berikut:
2 2-1
M a n d i_ (memberi tahu)

2 3-2
M a n d i? (bertanya)

3 4-3
M a n d i! (menyuruh)

Ketiga kalimat di atas sama bentuknya, tetapi dengan adanya nada yang berbeda, maka berbeda pula maknanya.

c. Jeda

Dalam ujaran kita sering berhenti sejenak untuk mengatur nafas, mengatur acapan, dan sebagainya.

Perhentian itu tidak sama lamanya. Ada yang cepat, ada pula yang lambat.

Dengan perhentian itu kita dapat memisahkan satu kata dengan kata , lainnya, satu kelompok kata dengan kelompok kata lainnya, dan satu kalimat dengan kalimat lainnya.

Sama halnya dengan nada dan tekanan, perhentian berfungsi sebagai pembeda arti.

Contoh :

– Adik ibu Hasan/sedang bersembahyang. (Yang sedang bersembahyang adalah adik ibu Hasan, bukan kakaknya.)

– Adik ibu/Hasan sedang bersembahyang. (Yang sedang bersembahyang adalah adik ibu yang bernama Hasan, bukan Harun.)

– Adik/ibu Hasan sedang bersembahyang. (Yang sedang bersembahyang adalah Ibu Hasan bukan Ibu Harun.)

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa perhentian berfungsi membedakan arti. Perhentian disebut jeda atau kesenyapan. 

d. Tempo

Panjang pendeknya suara dalam mengucapkan suatu suku kata akan membentuk tempo.

Lain halnya dengan tekanan, nada, dan jeda, tempo tidak berfungsi sebagai pembeda arti.

Tempo akan tampak jelas jika kita bandingkan ucapan orang yang sedang emosi atau gugup, dengan orang yang dalam keadaan tenang.

Orang yang gugup atau emosi biasanya mengucapkan kata serba cepat. Sedangkan orang yang dalam keadaan tenang, akan mengucapkan sesuatu dengan Iambat atau pelan-pelan. (*)

Sumber : Sari Tata Bahasa Indonesia
Penulis : Sumiati Budiman

Tinggalkan Komentar