Beranda Opini Mitos Konflik, Sebuah Fakta Kehidupan

Mitos Konflik, Sebuah Fakta Kehidupan

0
Memahami Konflik, Sebuah Fakta Kehidupan
Unsplash/Vlad Tchompalov

Mitos Konflik, Memahami Konflik, Sebuah Fakta Kehidupan

Penulis: Dr William Hendricks

Konflik adalah sesuatu yang tak terhindarkan! Konflik melekat erat dalam jalinan kehidupan.

Umat manusia selalu berjuang dengan konflik.

Perang yang telah terjadi pada abad-abad yang lampau menyisakan pengaruh, dan dalam dunia bisnis sulit dibayangkan suatu hari tanpa konflik dan stres.

Oleh karena itu hingga sekarang kita dituntut untuk memperhatikan konflik.

Kita memerlukan jalan untuk meredam ketakutan terhadap konflik.

Bisnis, keluarga dan kontak sosial kita dapat diperluas bila konflik itu dapat dipahami.

Olehnya itu perlu memberikan batasan konflik dan mengidentifikasikan mitos yang umum yang telah membatasi upaya kita untuk mengelolanya.

Memberikan Nama pada Kawasan

Para pembuat peta zaman dulu memberikan label untuk kawasan yang belum dikenal sebagai tempat keberadaan para naga.

Bagi dunia bisnis sekarang, konflik adalah suatu kawasan yang tidak dikenal.

Perusahaan-perusahaan dan individu-individu tidak dapat mengenal kawasan konflik.

Keamanan psikologi didapat bila kita menamai dan menandai kawasan rasa takut kita.

Oleh karena itu, langkah kita yang pertama untuk mengelola konflik secara

efektif adalah menamai atau menandai kawasan sehingga kawasan itu menjadi familiar (diketahui) meski belum dikenal.

Simbol konflik menurut orang Cina itu berasal dari dua kata: yaitu bahaya dan kesempatan.

Konflik bukanlah sesuatu yang negatif atau positif.

Pemecahan konflik dapat dilakukan, baik dari kawasan negatif maupun positif.

Simbol ini memberikan tanda bagi konflik, memindahkannya dari dunia yang tidak dikenal ke dunia yang lebih dikenal.

BACA JUGA :   Globalisasi Ekonomi dan Demokrasi Indonesia

Konflik tidak perlu diartikan memindahkan bencana yang akan datang, tapi dalam

konflik itu sendiri terkandung kesempatan.

Konflik adalah kawasan yang dapat dikelola dan dikendalikan.

Mitos Tentang Konflik

Mitos muncul bila kita kurang paham atau kurang mengerti.

Mitos ini menyebabkan kita berada dalam miskonsepsi atau salah paham dan tidak objektif.

Mitos dapat mempengaruhi pikiran anda terhadap konflik. Di bawah ini ada lima mitos umum tentang konflik.

Lima mitos yang menjadi penghambat manajemen konflik yang positif :

1. Adanya konflik merupakan pertanda kelemahan manajer.

2. Konflik merupakan pertanda rendahnya perhatian pada organisasi.

3. Kemarahan adalah negatif dan merusak.

4. Konflik, jika dibiarkan, akan reda dengan sendirinya.

5. Konflik harus dipecahkan.

Mitos 1: Adanya konflik merupakan pertanda kelemahan manajer.

Mitos ini berperan dalam menimbulkan rendahnya rasa bangga terhadap diri sendiri dan rasa aman,

dan menarik seorang manajer untuk berada pada siklus ketakutan sehingga selalu merasa khawatir dan tergesa-gesa.

Kenyatannya, konflik tetap ada dan terjadi!

Manajer yang efektif dapat mengantisipasi konflik bila memungkinkan,

siap menghadapi konflik bila konflik tersebut muncul, dan menikmati ketidakadaannya.

Hubungan itu demikian beragam untuk menilai secara efektif mutu seorang manajer dengan ada atau tidak adanya konflik.

Sebuah mutu yang membuat Willie Shoemaker menjadi joki (pengendara kuda pacu) yang luar biasa,

yaitu dirinya mampu mengendalikan kuda demikian sempurna.

Kuda yang dikendarainya, kadang-kadang tidak sadar atas keberadaan Willie Shoemaker,

BACA JUGA :   Nasionalisme sebagai Prospek Belajar

kuda itu merasa tidak pernah dikendalikan oleh tuannya, kuda itu tidak merasakan hentakan tali kekang dari tuannya.

Manajer yang baik memiliki ”tangan yang lembut” dalam menangani konflik.

Ketegangan biasanya akan muncul saat hubungan bisnis anda renggang, ituah yang akan membatasi mereka.

Kemampuan anda sebagai seorang manajer yang baik teruji bila anda dalam melakukan manajemen konflik,

menanggapi masalah itu “dengan tangan halus dan kepala dingin”.

Dalam mengelola konflik, anda tidak membuat penilaian dan tidak dinilai dengan keberadaan konflik.

Anda akan dinilai oleh apa yang anda lakukan dalam mengatasi konflik, tidak dengan keberadaan konflik itu sendiri!

Mitos 2: Konflik merupakan pertanda rendahnya perhatian pada organisasi.

Ini menunjukkan bahwa orang menggunakan waktu dan energinya yang sangat berharga untuk masalah-masalah kecil.

Umumnya, orang mempertahankan dan melindungi kawasan itu dan tetap menaruh perhatian yang mendalam pada konflik,

dengan demikian konflik menunjukkan perhatianyang sebenamya.

Konflik dapat membantu mengklarifikasi emosi anda, dan dapat dipakai sebagai alat

untuk mengidentifikasikan nilai-nilai dasar yang anda anut.

Mitos 3: Kemarahan adalah negatif dan merusak.

Mitos ini mengabaikan kemarahan sebagai suatu emosi, baik itu emosi positif maupun negatif,

seperti bentangan emosi manusia yang demikian luas yang kita alami sehari-hari.

Energi diperlukan untuk memindahkan emosi yang berasal dari mereka yang

menaruh cukup perhatian pada suatu objek clan terlibat di dalamnya supaya berada dalam arahan yang positif.

Kemarahan hanya suatu pertanda dari bahaya, tapi kemarahan dapat juga

BACA JUGA :   Kemiskinan Struktural Menurut Hadi Supeno

mengarahkan untuk tercapainya suatu kepuasan bila dilakukan dengan tepat.

Mitos 4: Konflik, jika dibiarkan maka akan reda dengan sendirinya.

Mitos ini tidak semuanya benar. Anda dapat menghindari konflik ini merupakan strategi bertahan yang sahih,

tapi bertahan bukan satu-satunya strategi.

Intensitas konflik beragam. Jika konflik itu diabaikan, dapat meningkat menjadi konflik yang lebih besar.

Mitos 5: Konflik hams dipecahkan.

Mitos ini menghambat kreativitas, menyebabkan manajer menjadi berorientasi solusi.

Beberapa konflik paling baik dikelola dengan sabar, sementara yang lainnya menghendaki dengan cara pemecahan.

Gerak cepat untuk menyelesaikan konflik dapat membatasi keberhasilan.

Fokus yang berlebihan pada pemecahan masalah dapat menjadi tidak produktif.

Pemikiran yang berfokus tunggal, yang kadang-kadang terjadi bila kita merasa

yakin bahwa kita hams menemukan suatu solusi, dapat menyebabkan kita kehilangan perspektif.

Kegagalan untuk melihat gambar yang besar sementara bertahan dengan masalah yang khusus,

dapat menjadi suatu perangkap besar pada waktu terjadi konflik.

Ringkasan

Orang-orang bisnis yang kompeten kadang-kadang menjadi tidak efektif ketika menghadapi konflik,

karena terperangkap oleh kekuatan mitos konflik tersebut.

Tujuan tulisan ini adalah melakukan penyelidikan terhadap kawasan yang kita kenal sebagai konflik, dan berupaya untuk melemahkan mitos tersebut.

Kita sekarang siap untuk melangkah ke langkah berikutnya dalam manajemen konflik: yaitu menaksir atau memperhitungkan konflik. (*)

Note :

Tulisan ini dikutip dari buku berjudul Bagaimana Mengelola Konflik, Petunjuk Praktis Untuk Manajemen Konflik yang Efektif.

Penulis : Dr William Hendricks

Tinggalkan Komentar