Merajut Awalnya Dilakukan Kaum Pria

CAFEBERITA.COM – Keterampilan merajut berasal dari Jazirah Arab, Timur Tengah sekitar 3000 tahun yang lalu. Pada mulanya, kegiatan ini hanya dilakukan oleh kaum pria, terutama para pedagang Arab. Keterampilan merajut mereka gunakan untuk membuat permadani yang diperdagangkan ke banyak negara.

Melalui para pedagang ini, keterampilan merajut kemudian tersebar ke berbagai belahan dunia. Merajut mulai terkenal di daerah timur hingga Tibet, barat hingga Spanyol, dan daerah-daerah Iain seperti pelabuhan di wilayah Mediterania.

Baca Juga:

Cara Membuat Syal Rajut Disertai Video

Belajar Merajut : Tangan Gemetaran, Selalu Salah Masuk Lubang

Kopiah Rajut Makassar Harga Murah

Berawal dari Spanyol, merajut kemudian menyebar ke negara-negara Eropa lainnya. Merajut yang awalnya merupakan keterampilan kaum pria, berangsur-angsur Iebih diminati oleh para wanita.

Merajut bahkan menjadi keterampilan standar seorang wanita muda Eropa, untuk membuat beragam pakaian hangat dan renda.

Kolonisasi Eropa ke berbagai wilayah dunia, kemudian menyebabkan keterampilan merajut ikut menyebar hingga ke Negara Amerika, Afrika, dan Asia, termasuk juga Indonesia. Merajut di Indonesia diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Oleh karena itu, keterampilan merajut di Indonesia Iebih dikenal dengan istilah Belanda, yaitu hakken dan breien.

Dahulu bahan rajutan hanya diminati oleh orang-orang tua saja. Namun kini, bahan rajutan telah menjadi tren sepanjang zaman. Bahan rajutan ada yang dibuat menggunakan tangan, dan ada pula yang menggunakan mesin.

Rajutan tangan hasilnya Iebih kuat dan indah, akan tetapi proses pembuatannya memakan waktu yang lama. Walaupun popularitasnya sempat menurun karena kemunculan mesin rajut dan mesin tenun, kini rajutan tangan cenderung Iebih diminati.

Hal ini dikarenakan rajutan mesin biasanya tidak terlalu kuat atau awet. Meski dapat dibuat dalam waktu yang Iebih cepat, mudah, serta mampu menghasilkan banyak rajutan dalam waktu yang singkat.

Teknik Merajut Hakken dan Breien

Merajut Awalnya Dilakukan Kaum Pria
Anggota Makassar Rajut memberikan pelatihan teknik merajut kepada sejumlah ibu rumah tangga di Selayar, 30 Juni-1 Juli 2021 (FOTO : Makassar Rajut)

Terdapat dua macam teknik merajut yang umumnya digunakan, yaitu hakken (merenda) dan breien (merajut).

Hakken atau merenda adalah teknik merajut menggunakan satu jarum dengan ujung melengkung (hakpen). Ujung melengkung ini berfungsi untuk mengaitkan benang.

Dalam bahasa Inggris, hakken atau merenda disebut dengan crochet. Teknik dasar merenda dilakukan dengan cara memasukkan benang ke dalam simpul yang sudah ada, untuk membuat simpul yang baru.

Kain hasil dari merenda umumnya berupa pola seperti rantai yang saling menyambung. Produk hasil merenda biasanya berupa benda-benda kecil, seperti taplak meja, topi, tas, sarung handphone, dan lain-lain.

Teknik hakken dapat menggunakan benang dengan ketebalan yang bervariasi. Benang dengan ketebalan yang sangat halus dapat digunakan untuk membuat renda. Sedangkan benang yang cukup tebal dapat digunakan untuk membuat tas, topi, dan sebagainya.

Sementara breien atau merajut, yaitu teknik merajut menggunakan dua jarum yang berbentuk seperti sumpit atau tusuk satai. Dalam bahasa Inggris, breien atau merajut disebut dengan knitting.

Berbeda dengan merenda yang menyilangkan dua helai benang yang saling tegak lurus, merajut hanya menggunakan sehelai benang. Baris tusukan yang sudah selesai akan dipegang oleh salah satu jarum rajut, hingga dimulainya tusukan yang baru.

Merajut dapat dilakukan dengan tangan maupun mesin. Hasil rajutan berupa pola yang berbentuk seperti huruf “v” yang saling menyambung, dengan bentuk berbeda-beda. Produk hasil merajut antara lain baju hangat (sweater), syal, selimut, topi, kaus kaki, blus, gaun, dan lain-lain.

Secara umum, merenda dan merajut sama-sama bertujuan untuk mengaitkan benang melalui lubang tusukan yang ada. Bahkan terkadang, orang salah mengartikan antara pengertian keduanya.

Merenda dan merajut sering dipahami sebagai sesuatu yang sama. Padahal, keduanya menggunakan teknik rajutan dan jarum yang sama sekali berbeda.

Jarum untuk merenda disebut dengan hak pen (jarum renda) yang memiliki kaitan pada ujungnya Sedang kan jarum untuk merajut memiliki bentuk yang meruncing pada ujungnya.

Teknik hakken memang lebih populer di Indonesia. Teknik ini bahkan sering diajarkan dalam pelajaran prakarya di beberapa SD dan SMP.

Teknik hakken lebih dulu populer karena memang sudah dikenal secara turun-temurun. Di berbagai daerah seperti Bali, Bangka-Belitung, dan Padang, banyak dyumpai kerajinan hakken yang terbuat dan benang-benang katun lokal.

Sementara itu, knitting atau teknik breren, tidak begitu populer di Indonesia. Iklim tropis di Indonesia yang cenderung panas, membuat breien yang memang biasanya menggunakan benang wol tebal untuk membuat sweater atau syal, menjadi kurang diminati.

Breien dianggap lebih cocok untuk daerah yang memiliki musim dingin. Walaupun sebenarnya, breien juga dapat dipakai di daerah tropis seperti Indonesia.

Salah satu teknik breien yang disebut dengan lace knitting, yaitu teknik berupa motif-motif berongga, akan sangat bagus bila dikembangkan lebih lanjut.

Selain tidak cocok untuk iklim tropis, teknik breien juga dianggap sulit. Padahal jika ditekuni, breien tidaklah sesulit yang dibayangkan.

  • Penulis: Husna Widyani, Amalia Iffat

Video Cara Merajut atau Belajar Merajut Knitting untuk Pemula