Beranda Opini Mappabotting, Upacara Adat Perkawinan Suku Bugis

Mappabotting, Upacara Adat Perkawinan Suku Bugis

0
Mappabotting upacara perkawinan bugis
instagram/iqramakeup

Apa itu Mappabotting? Perkawinan bagi masyarakat Suku Bugis merupakan sebuah kewajiban untuk menyempurnakan kehidupan.

“Elokni ri pakkalepu” yang artinya akan diutuhkan menjadi manusia.

Peribahasa ini selalu diungkapkan kepada pasangan Suku Bugis yang hendak menikah.

Ada banyak tahapan adat yang harus dilalui sepasang kekasih sebelum menuju ke perkawinan.

Tradisi ini disebut dengan Mappabotting.

Mappabotting dalam Bahasa Bugis berarti melaksanakan perkawinan.

Tujuannya tidak hanya menyatukan kedua insan dalam sebuah bahtera rumah tangga, akan tetapi menyatukan dua keluarga besar.

Oleh karena itu, setiap anak perempuan dan laki-laki Suku Bugis diharapkan bisa mendapatkan jodoh dari lingkungan keluarga, baik dari pihak ibu maupun pihak ayah.

BACA JUGA :   Iman dan Realitas oleh Dr Kuntowijoyo

Dengan alasan untuk mempererat hubungan antar keluarga, perjodohan pun dibatasi hanya untuk sesama keluarga Bugis.

Perkawinan akan menjadi larangan apabila dilakukan antara kerabat genealogis dengan Suku Makassar.

Upacara atau pesta perkawinan Mappabotting umumnya dilaksanakan di rumah masing-masing mempelai.

Barulah ketika akad nikah, semua kegiatan dilangsungkan di rumah mempelai perempuan diawali dengan tahap mappenre botting atau mengantar pengantin.

Secara garis besar, Mappabotting dibagi menjadi tiga tahap yaitu upacara pra perkawinan, pesta perkawinan, dan pasca perkawinan.

Setelah terjadi kesepakatan tanggal pernikahan dan undangan sudah disebar maka agenda selanjutnya adalah mappatettong sarapo atau mendirikan bangunan yang terpisah dengan rumah induk keluarga mempelai perempuan.

BACA JUGA :   Nasionalisme sebagai Prospek Belajar

Bangunan ini nantinya difungsikan sebagai pelaminan pada hari pernikahan.

Sementara menunggu hari pernikahan, pengantin dirawat, dimandikan, digelarkan acara khatam quran serta pembacaan barzanji atau ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.

Setelah itu, calon pengantin disucikan atau mapacci.

Mapacci adalah ritual yang kental nuansa batin dan sarat akan makna.

Tujuannya untuk menyucikan pengantin dan membulatkan niat baik antara keduanya dalam membangun keluarga.

Serangkaian tradisi pra perkawinan selesai dilaksanakan kemudian tibalah hari perkawinan.

Kegiatan adat Bugis hampir sama seperti perkawinan di Indonesia pada umumnya.

Yang membedakan adalah pada saat seusai akad nikah, mempelai pria dituntun oleh orang yang dituakan menuju ke dalam kamar mempelai wanita untuk ipasikawara atau diperse – se – tubuh – kan.

BACA JUGA :   Gerakan Buruh dalam Sejarah Politik Indonesia

Pengantin pria dipersilahkan menyentuh beberapa bagian tubuh perempuan yang telah dinikahinya sebagai simbol titik awal keberkahan dan kebahagiaan dalam rumah tangganya.

Setelah pesta pernikahan usai, masih ada rangkaian acara lain di antaranya malluka, ziarah kubur, dan massita beseng.

Barulah keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam-makam leluhur.

Lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke beberapa kerabat dan keluarga dekat atau Massita Beseng.

Penulis : sarisyahrial
Sumber : South Sulawesi

Tinggalkan Komentar