Keterampilan Menyimak Tentang Verbal Secara Efektif

Meny­i­mak ialah acara menden­gar dan memamahi yang dilak­sanakan secara khusus den­gan ter­pusat pada objek yang dis­i­mak. Kegiatan meny­i­mak ialah acara yang biasa dilak­sanakan sehari-hari apala­gi di dalam kelas. Di seko­lah , murid mesti meny­i­mak den­gan sek­sama klar­i­fikasi guru agar sang­gup meny­er­ap pela­jaran yang sedang dia­jarkan. Agar sang­gup menangkap poin-poin pent­ing dari pem­be­la­jaran , pasti murid-murid mesti mem­pun­yai kemam­puan meny­i­mak den­gan baik dan tepat. Cara meny­i­mak yang pal­ing sem­pur­na yakni meny­i­mak secara efek­tif. Meny­i­mak secara efek­tif berhar­ga untuk men­da­p­at data atau keteran­gan yang aku­rat. Selain meny­i­mak klar­i­fikasi guru dikala men­ga­jar , adakalanya murid juga mesti meny­i­mak wacana ekspre­si untuk men­dukung pem­be­la­jaran. Wacana terse­but bisa berasal dari guru , gun­jin­gan tele­visi , gun­jin­gan radio , dan seba­gainya. Keter­ampi­lan meny­i­mak menampilkan sejauh mana murid sang­gup menger­ti keteran­gan yang ia den­gar.

Ciri-ciri Wacana Lisan

Wacana ekspre­si ialah wacana yang dis­am­paikan secara ekspre­si lewat obrolan prib­a­di atau tidak lang­sung. Agar keteran­gan yang dis­am­paikan dalam wacana ekspre­si sang­gup diter­i­ma , maka pen­den­gar mesti meny­i­mak den­gan sek­sama.

Bacaan Lain­nya

Berbe­da den­gan wacana tulis yang sang­gup kita baca beru­lang-ulang , wacana ekspre­si con­dong tidak sang­gup diu­lang alasan­nya berlalu begi­tu saja sehing­ga memer­lukan daya simak yang lebih ting­gi agar inter­ak­si antara pem­bicara dan pen­den­gar tidak ter­pu­tus.

Berikut beber­a­pa ciri-ciri wacana lisan:
1. Memer­lukan daya simak yang ting­gi
2. Cen­derung susah diu­lang uta­manya obrolan lang­sung
3. Dap­at dilper­je­las den­gan ger­akan anggota tubuh
4. Meny­atukan par­tisi­pan dalam kon­teks yang sama
5. Relatif lebih pen­dek dari wacana tulis
6. Meli­batkan unsur kebi­asaan yang sudah dike­nali bersama
7. Dap­at meli­batkan inter­ak­si den­gan par­tisi­pan secara lang­sung

Con­toh pal­ing seder­hana yang sang­gup kita jadikan materi selaku lati­han untuk meny­i­mak wacana ekspre­si yakni acara menden­gar gun­jin­gan di tele­visi. Cobal­ah untuk menon­ton suatu gun­jin­gan dan lihat sejauh mana kau bisa menangkap keteran­gan yang dis­am­paikan oleh pem­bawa beri­ta.

Defenisi dan Tujuan Menyimak

Per­lu dia­mati bah­wa meny­i­mak tidak sama den­gan menden­gar. Meny­i­mak memer­lukan per­ha­t­ian dan kesung­guhan yang lebih ketim­bang sekedar menden­gar. Keti­ka meny­i­mak suatu obrolan , maka peny­i­mak akan menden­gar dan men­ja­jal mema­ha­mi.

Pada acara menden­gar , pen­den­gar bisa saja tidak menger­ti isi obrolan alasan­nya tidak diiuku­ti den­gan pengert­ian dan bukan ialah tujuan. Dalam acara meny­i­mak , pen­den­gar beru­paya menger­ti isi obrolan alasan­nya ter­da­p­at unsur tujuan yakni mener­i­ma infor­masi.

Den­gan kata lain , meny­i­mak yakni suatu pros­es yang meliputi acara meny­i­mak suara bahasa , mengi­den­ti­fikasi , meng­in­ter­pre­tasikan , dan mereak­si atas mak­na yang terkan­dung di dalam­nya. Pen­den­gar sang­gup mener­i­ma keteran­gan secara efek­tif apa­bi­la acara meny­i­mak dilak­sanakan den­gan benar.

Tujuan uta­ma meny­i­mak yakni menangkap ide , ide , atau pesan yang ter­da­p­at pada materi atau materi simakan. Jika dijabarkan , maka berikut beber­a­pa tujuan dari meny­i­mak:
1. Untuk mener­i­ma keteran­gan dan fak­ta
2. Untuk men­ganal­i­sis dan menge­cek fak­ta
3. Untuk mener­i­ma wangsit dan penge­tahuan
4. Seba­gai fasil­i­tas hibu­ran

Kegiatan meny­i­mak meli­batkan tiga unsur uta­ma , yakni pem­bicara atau nara­sum­ber , pen­den­gar atau peny­i­mak , dan materi simakan. Bahan simakan atau top­ipem­bicaraan ialah hal ter­pent­ing dalam komu­nikasi ekspre­si khusus­nya acara meny­i­mak.

Teknik Menyimak Secara Efektif

Meny­i­mak secara efek­tif ialah cara yang sem­pur­na untuk men­da­p­at infor­masi. Jika kemam­puan meny­i­mak secara efek­tif sudah dikua­sai , maka murid sang­gup mener­i­ma keteran­gan secara aku­rat dari wacana ekspre­si atau obrolan yang sedang ia simak.

Beber­a­pa hal pent­ing yang mesti dia­mati dalam meny­i­mak wcana secara efek­tif antaralain kesi­a­pan men­tal dan fisik , moti­vasi , per­i­laku , meny­i­mak secara keselu­ruhan , tang­gap suasana , kon­tak den­gan pem­bicara , merangkum isi obrolan , dan menyikapi hasil pem­bicaraan.

#1 Kese­hatan Fisik dan Men­tal 
Kese­hatan fisik dan men­tal ialah hal pent­ing yang mesti kita amati sebelum melakuan acara meny­i­mak. Saat meny­i­mak dibu­tuhkan piki­ran yang jernih dan badan yang fit agar kita sang­gup berfokus secara opti­mal.

#2 Moti­vasi 
Hal pent­ing selan­jut­nya yakni moti­vasi atau doron­gan. Salah satu moti­vasi yang mesti kita mili­ki sebelum mengiku­ti acara meny­i­mak ten­tu­lah tujuan. Den­gan adanya doron­gan beru­pa tujuan , maka kita akan lebih tekun dalam meny­i­mak alasan­nya kita tahu apa tujuan kita.

#3 Meng­har­gai Pem­bicara
Seba­gai peny­i­mak kita mesti bersikap objek­tif dan meng­har­gai pem­bicara. Sia­papun pem­bicara dan bagaimana­pun persep­si kita ter­hadap­nya , cobal­ah untuk mem­po­sisikan diri selaku peny­i­mak dan cobal­ah untuk meng­haraginya den­gan demikian kita sang­gup meny­i­mak den­gan lebih ikhlas.

#4 Meny­i­mak Menyelu­ruh
Untuk men­ja­di peny­i­mak yang bagus , kita mesti meny­i­mak secara lengkap tetapi tetap berakal mene­gaskan bagian-bagian pent­ing yang per­lu diin­gat. Sama menyeru­pai mem­ba­ca , kita mesti bisa menyak­sikan poin-poin pent­ing dari keteran­gan yang dis­am­paikan.

#5 Tang­gap Situ­asi
Peny­i­mak yang ide­al yakni peny­i­mak yang tang­gap kepa­da suasana dan kon­disi. Peny­i­mak per­lu men­ge­nal suasana obrolan , cepa­ta mengiku­ti kon­disi , dan menger­ti gaya pem­bicara sehing­ga sang­gup mengiku­ti kem­ana arah pem­bicaraan.

#6 Kon­tak den­gan Pem­bicara
Agar pros­es meny­i­mak lebih hidup , kita per­lu melakukan kon­tak den­gan pem­bicara lewat per­ha­t­ian , senyu­man , anggukan , dan tan­da atau ger­akan lain yang menampilkan sim­pati kepa­da obrolan terse­but. Den­gan begi­tu akan ter­jalin kek­er­abatan antara pem­bicara dan peny­i­mak.

#7 Merangkum Isi Pem­bicaraan
Seba­gai peny­i­mak , pasti kita bertu­gas untuk menden­gar , meny­i­mak , dan menangkap poin-poin pent­ing yang dis­am­paikan dan menyusun poin-poin terse­but sebaik-baiknya. Dalam hal ini pasti kita memer­lukan suatu catatan untuk men­catat poin pent­ing yang kita tangkap dari pem­bicaraan.

#8 Menang­gapi Hasil Pem­bicaraan
Sete­lah sele­sai meny­i­mak , selan­jut­nya kita sang­gup mem­beri jawa­ban beru­pa peni­la­ian dan respon posi­tif. Tang­ga­pan ita kepa­da hasil obrolan sang­gup kita jadikan pola sejauh mana kita menger­ti obrolan terse­but.

Den­gan demikian , teknik yang sang­gup kita lak­sanakan untuk mengem­bangkan kemam­puan meny­i­mak secara efek­tif yakni den­gan cara meny­i­mak pem­bicara den­gan fokus sarat , menelaah isi obrolan , meny­i­mak den­gan kri­tis , dan meng­hasilkan catatan selaku rangku­man dari hasil acara meny­i­mak.

Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Menyimak

Keter­ampi­lan meny­i­mak secara efek­tif dipen­garuhi oleh beber­a­pa aspek yang berhubun­gan prib­a­di den­gan unsur-unsur yang ter­li­bat , yakni unsur pem­bicara , unsur peny­i­mak , unsur materi , dan unsur situ­asi.

#1 Unsur pem­bicara
Mes­ki acara meny­i­mak dilak­sanakan oleh pen­den­gar , tetapi pem­bicara secara tidak prib­a­di juga akan mem­pen­garuhi pros­es meny­i­mak. Agar acara meny­i­mak sang­gup ber­jalan secara efek­tif dan efisien , maka pem­bicara mesti men­gua­sai materi , bersikap yakin diri , men­gatakan secara sis­tem­a­tis , dan bisa berin­ter­ak­si den­gan peny­i­mak meng­gu­nakan gaya yang bervari­asi.

#2 Unsur Peny­i­mak
Seba­gai peny­i­mak , kita mesti beru­paya menden­gar pem­bicara den­gan fokus dan serius alasan­nya kita pun­ya tujuan untuk mener­i­ma keteran­gan dari apa yang dis­am­paikan oleh peny­i­mak. Oleh alasan­nya itu , pasti kita mesti pun­ya minat atau moti­vasi yang mem­pun­yai pen­garuh untuk meny­i­mak.

Selain mem­pun­yai minat untuk meny­i­mak , peny­i­mak juga mesti mem­pun­yai sifat objek­tif dan koop­er­atif. Sifat objek­tif bermak­na peny­i­mak meng­gu­nakan persep­si kepa­da materi simakan bukan bergan­tung pada sia­pa pem­bicaranya.

Seo­rang peny­i­mak juga mesti bersikap koop­er­atif yakni siap berhubun­gan den­gan pem­bicara untuk kesuk­sesan komu­nikasi terse­but. Ben­tuk koor­di­nasi terse­but sang­gup ditun­jukkan den­gan cara meng­har­gai pem­bicara , berin­ter­ak­si den­gan pem­bicara , dan tidak mem­bu­at keribu­tan.

#3 Unsur Materi
Agar acara meny­i­ma ber­jalan secara efek­tif dan menampilkan faedah , pasti materi atau materi simakan yang mau dis­am­paikan mesti nya­ta , sis­tem­a­tis , sepa­dan , dan berman­faat. Baik pem­bicara maupun peny­i­mak mesti sama-sama bijak menye­suaikan materi pem­bicaraan.

#4 Unsur Situ­asi
Fak­tor ter­akhir yang sung­guh mem­pen­garuhi acara meny­i­mak yakni dari unsur situ­asi. Agar acara meny­i­mak sang­gup ber­jalan den­gan baik , maka suasana atau kon­disi lingkun­gan dimana pros­es meny­i­mak ber­jalan harus­lah ten­ter­am dan aman agar pem­bicara dan peny­i­ma tidak men­gala­mi gang­guan.

Share ke Face­book »Share ke Twit­ter »
Cafeberita.com yakni blog ten­tang materi bela­jar. Gunakan Kolom Search atau pen­car­i­an untuk mener­i­ma materi men­car ilmu yang ingin dipela­jari.

Pos terkait