Kemiskinan adalah
Unsplash/Mika Baumeister

Kemiskinan Struktural Menurut Hadi Supeno, Kemiskinan Adalah

Kemiskinan adalah problem sosial yang tak kungjung bisa diselesaikan. Angka kemiskinan yang masih tinggi di Indonesia. Berikut ini akan dibeberkan sejumlah faktor yang mempengaruhi kemiskinan.

Kemiskinan Struktural harus diperangi. Dari dulu hingga sekarang problem ini tak kunjung terselesaikan.

Baca Juga: Kata-kata Bahasa Bugis dan Artinya

Penulis: Hadi Supeno

LELAKI tua itu berkulit hitam legam. Kerut di keningnya tak tampak jelas, rambut beruban, pipi tak penuh, dan tubuh sedikit bangkok.

Begitu ayam berkokok pagi hari, ia segera bangun.

Sebelum bagaskara memancarkan cahaya, ia berangkat ke sawahnya bersama cangkul dan dua ekor kerbau peliharaanya tapi bukan miliknya.

Pukul sembilan ia istirahat menikmati kiriman makanan sang istri.

Siang hari istirahat lagi guna shalat dhuhur, dan setelah itu bekerja lagi hingga menjelang petang.

Rutinitas itu, berlangsung nyaris sepanjang hidupnya.

Di tempat yang berbeda ada lakon yang nyaris sama.

Perempuan setengah baya memutus aneka mimpinya, bangun tidur, lalu menggendong basil partanian berupa; buah-buahan, bungabungaan, sayur-sayuran.

Ia berjalan kaki puluhan kilometer menuju pasar kota guna menjual hasil pertanian tersebut.

Ketika anak-anak berangkat sekolah ia sudah pulang dari pasar dengan gendongan belanjaan keperluan hidup lainnya,

dan siang harinya ia bersiap bekerja lagi di ladang, untuk dijual lagi, dan bangun tengah malam lagi.

Nasib serupa dialami oleh lelaki tegap tamatan SMP.

Pukul 06.00 pagi hari ia mengayuh sepeda menuju tempat ia bekerja sebagai buruh harian.

Di pabrik milik pengusaha yang pernah memperoleh Penghargaan dari pemerintah sebagai pembayar pajak terbesar tersebut.

Ia bekerja sesuai aturan yang diterapkan tanpa sekalipun membantah atau usul itu dan ini.

Lima belas tahun ia lakukan itu bersama rekan-rekannya untuk menjadi alat produksi dari perusahaan raksasa milik tuan majikannya.

Lelaki tua, wanita setengah baya, dan lelaki tegap di atas jelas bukanlah orang-orang pemalas.

Mereka adalah pekerja keras, mereka adalah manusia-manusia pengabdi dan disiplin kerja, juga terhadap waktu lingkungannya.

Tetapi mereka ternyata tetap hidup di bawah rumus yang sederhana.

Baca Juga: Bahasa Daerah Bali, Contoh dan Artinya

Mereka makan di bawah standar fisik minimum. Sayur, sambal dan kerupuk adalah makan besar.

Telur dan daging adalah sebuah kemewahan yang jarang terjadi.

Hanya dua saat yang memungkinkan mereka menikmati daging ayam

tanpa kesan mewah, ayamnya sakit atau orangnya yang sakit.

Sementara menikmati daging kambing dan daging sapi semata-mata di dapat saat ada pesta kenduri.

Minum susu? Itu hanya ada dalam kenangan masa kecil, ketika kehangatan ibu memberinya dengan tulus. Tak lebih.

Mengapa bisa terjadi pada mereka nasib macam itu?

Bukankah akal sehat mengatakan bahwa pekerja keras akan memperoleh imbalan berupa penghasilan yang memadai guna menjamin kehidupannya?

Tapi mengapa mereka jangankan untuk rekreasi dan menabung, sedangkan buat makan, pakaian dan papan saja belum mencukupi?

Pada hal mereka bukan tukang minum, bukan tukang madat, bukan tukang judi, dan bukan tukang royal.

Mereka yang disebut kaum miskin, yang jumlahnya masih jutaan orang di seluruh Indonesia ini.

Dan dunia macam mereka inilah yang disebut kemiskinan struktural.

Dan kemiskinan macam ini pulalah sebenarnya yang melanda rakyat di berbagai pelosok tanah air, apakah di kota-kota dan terutama di desa-desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.