Beranda Pendidikan K.H As’ad Syamsul Arifin, Tokoh NU Karismatik

K.H As’ad Syamsul Arifin, Tokoh NU Karismatik

81
0
K.H As'ad Syamsul Arifin
K.H As'ad Syamsul Arifin

Berikut kisah hidup tokoh NU, K.H As’ad Syamsul Arifin. Sejauh ini karismanya di kalangan NU belum ada tandingannya.

Beliau adalah salah satu mustasyar PB NU dan juga pengasuh pondok Salafiah Syafii’yah Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.

Semasa hidup beliau telah 21 kali naik haji. Total 14 tahun hemukim di Mekah. Pernah menjadi anggota Konstituante (1957-1959) dan menolak jabatan menteri agama yang disodorkan Bung Karno di zaman Nasakom.

Berikut kisah beliau semasa hidup. Kisah hidupnya ini dituturkan atas permintaan TEMPO, Mohammad Baharun.

Beliau menyampaikannya dalam bahasa Madura. Untuk hal panting, ia berbahasa Indonesia. Sering juga bercampur Bahasa Arab dan dimuat di Majalah Tempo, 2 September 1989.

K.H As’ad Syamsul Arifin Seorang Kiai

Saya (K.H As’ad Syamsul Arifin) hidup dan dibesarkan dalam tradisi agama dan adat yang kuat. Ayah saya Haji Syamsul Arifin alias Haji Ibrahim.

Nama lengkapnya Raden Kiai Haji Ibrahim bin Kiai Haji Ibrahim bin Kiai Haji Ruham. Saya biasa memanggilnya Abah.

Abah dilahirkan di Kembang Kuning, Kabupaten Pamekasan, Madura. Kalender ketika itu menunjuk tahun 1841.

Ayah Abah, berarti kakek saya, adalah seorang ‘kiai di desa itu. Namanya Kiai Ruham bin Raden Bujuk Bagendan Sida Bulangan.

Yang disebut terakhir ini masih ada hubungan darah dengan keluarga pihak wanita Sunan Ampel. Ibu abah saya juga keturunan bangsawan Madura, bernama Hajah Khadijah Nyai Pote.

Karena garis keturunan semua masih bangsawan, keluarga kami boleh pakai gelar raden yang artinya adalah rais dien – pemuka agama. Tapi, seperti umumnya orang Madura, keluarga kami orang tani semua.

Pada usia muda, Abah pergi ke Mekah. Ia mukim di sana. Ibu saya, Hajah Maimunah, juga ikut tinggal di tanah suci itu.

Mereka berdua bermukim di kampung yang namanya Syi’ib Ali. Keadaan Hejaz – sebutan negeri Arab Saudi pada zaman dulu tak seperti sekarang. Maklum, waktu itu belum banjir minyak.

Dan kalau tak salah Hejaz masih dijajah dinasti Usmaniyah. Unta dan khimar keledai masih banyak terlihat di sahara.

Transportasi sulit sekali. Begitu juga air kecuali sumber air zamzam yang terus mengalir berkat doa Nabi Ibrahim.

Lahir di Mekah

Di Mekah, pada tahun 1897 lahirlah saya. Saya diberi nama As’ad. Artinya ”yang membahagiakan”.

Entah dua atau tiga tahun kemudian lahirlah adik saya, Abdurrahman. Jadi, saya (K.H As’ad Syamsul Arifin) dua bersaudara, keduanya lelaki.

Di sana keluarga kami tak sendirian. Banyak juga perantau lainnya dari Pulau Madura. Konon, mereka pun sambang, bertandang, atas kelahiran saya. Tentu saya tak tahu persis nama-nama mereka, karena sayalah yang lahir.

Pada usia enam tahun saya pulang ke Tanah Air. Itu pertama kali saya melihat Tanah Air. Abah pulang kampung ke Kembang Kuning, Pamekasan, dan mendirikan pesantren kecil-kecilan.

Kemudian saya diajak berkunjung ke kediaman Kiai Haji Cholil Bangkalan, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Jombang dan para kiai lain.

Itulah awal ta’aruf perkenalan saya dengan kiai-kiai yang menjadi guru dan teman abah. Tahapnya masih sekadar untuk mencari ”berkah”.

Beberapa tahun kemudian saya (K.H As’ad Syamsul Arifin) ke Mekah lagi, untuk belajar takhassus – pelajaran khusus agama, pada beberapa guru terkenal.

Ustad-ustad saya adalah Sheikh Hasan al-Massad untuk ilmu nahwu dan bahasa Arab; Sayyid Mohammad Amin Al-Quthby untuk tauhid dan iiqh; Sayyid Hasan Al-Yamani dalam hal bahasa Arab serta Sayyid Abbas Al-Maliky yang mendalami tasawuf.

Meskipun tak terlalu lama belajar pada beliau, saya merasa banyak mendapatkan faedah besar. Itu karena berkah.

Biasanya saya belajar di Masjidil Haram. Di sana , selalu ada tadris, pengajian, yang digelar lepas salat asar.

Teman saya banyak. Baik dari berbagai negeri Arab lain, juga dari Indonesia. Antara lain adalah Kiai Haji Zainuddin’ dari Panoor, Lombok, Nusa Tenggara, yang kini menjadi pengasuh dan pendiri Pondok Nahdlatul Wathan. Juga Sheikh K.H. Prof. Yasin Al-Fadani.

Pulang ke Tanah Air

Tahun 1924 saya (K.H As’ad Syamsul Arifin) pulang ke Tanah Air kedua kalinya. Tapi saya tak berhenti menuntut ilmu. Dan ilmu yang saya tuntut itu jangan sampean kira kayak sekolah formil sekarang ini.

Waktu itu belajarnya dengan gaya khalaqah, yang sekarang setengah dipertahankan di pesantren-pesantren karena terbukti barokah-nya.

Saya belajar pada K. H. Cholil Bangkalan dan K. H. Hadratus Syeh Hasyim Asy’ari Jombang. Saya gali ilmu agama sedalam-dalamnya dan sebatas kemampuan saya menyerap.

Bagi saya kecintaan seorang kiai atau ustad adalah segalanya. Saya juga sempat belajar di pondok Panji Buduran Sidoarjo, Pondok Tetango – Sampang, Sidogiri -Pasuruan. Tapi yang paling lama, di Pesantren Tebuireng. Jombang, dan Demangan, Bangkalan.

Kalau ente tanya siapa yang paling berpengaruh di antara guru-gum besar itu, wah, sulit bagi saya (K.H As’ad Syamsul Arifin) untuk membedakan.

Semua berpengaruh di bidang masing-masing. Saya pun tak pernah membedakan ilmu satu dengan yang lainnya.

Sebab, kait-mengait satu dengan lainnya. Tapi saya kira, dalam pendidikan dasar agama, saham guru saya di Mekah sangat berpengaruh.

Di Tanah Air, dua guru besar saya K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Mob. Cholil cukup berpengaruh dalam pembinaan selanjutnya.

Segala nasihat dan anjurannya semuanya saya taati meski kesemuanya itu sudah mendahului saya menghadap Allah subhanahu wata’ala.

Sebenamya, saya bukan santri yang istimewa. Tapi saya merasa bersyukur karena dicintai para kiai.

Saya belajar di pesantren beliau-beliau itu kendati tidak terlalu lama. Kadang setahun, kadang dua tahun, sampai merasa mantap dengan ilmu yang diberikannya.

Kalau saya berpindah dari pesantren satu ke yang lain, itu juga atas kehendak beserta ridho orang tua dan para kiai saya.

Pokoknya, dari pondoklah saya belajar hidup. Jangan melulu sampean anggap di pondok ketika itu tak ada pelajaran umum. Saya tahu baca tulis Latin justru dari pondok. Bukan dari sekolah umum.

Bersambung…

Tinggalkan Komentar