Beranda Opini Iman dan Realitas oleh Dr Kuntowijoyo

Iman dan Realitas oleh Dr Kuntowijoyo

0
Iman dan Realitas oleh Dr Kuntowijoyo
Dr Kuntowijoyo

Iman dan Realitas Menurut Dr Kuntowijoyo

Nilai-Nilai yang Transhistoris dan Transendental

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu banyak jalan (atau sistem), karena itu berjalanlah di muka bumi, dan lihatlah bagaimana akibat mereka yang mendustakan. (Ali Imran, 3:137).

Mari kita melihat berbagai sistem itu. Pada dasarya ada dua sistem.

Pertama, sistem yang disebut dalam Al Qur’an sebagai jalan orang-orang mukmin, muttaqin.

Kedua, sistem yang dibangun oleh musyrikin, kafirin mukadzibin.

Islam sebagai suatu sistem, suatu way of life, terlihat dalam tiga macam realitas, yaitu realitas subyektif, realitas simbolik, dan realitas obyektif.

Tetapi sebelum itu kita harus mengakui adanya nilai tertinggi yaitu AI Qur’an dan Hadits. Al Qur‘an dan Hadits mengandung nilai-nilai transhistoris.

Artinya Al Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dalam sejarah.

Karena itu Al Qur’an adalah respon yang kongkret terhadap sejarah, terhadap kurun waktu tertentu, peristiwa tenentu dan di tempat tertentu.

Tetapi Al Qur’an mempunyai nilai-nilai transendental dan oleh karena itu bersifat abadi, nilai-nilainya tidak terikat oleh suatu tempat, suatu waktu, dan suatu peristiwa.

Dia melampaui peristiwa-peristiwa karena ia adalah karunia dan Rahmat Allah Yang Maha Mengetahui.

Hanya Allah yang mengetahui awal, tengah, dan akhir dari sejarah.

Dan karena itu kita percaya bahwa Al Qur’an itu abadi.

Al Hadits adalah obyektifasi yang kongkret dari nilai-nilai Al Qur’an pada zaman Nabi Muhammad SAW sebagai pengejawantahan yang nyata dari

ajaran-ajaran Al Qur’an, Al Hadits juga merupakan respon ajaran-ajaran Al Qur’an pada kenyataan-kenyataan imanen.

Sebagai respon dialektis antara nilai nilai transendental dan nilai nilai imanen.

Tetapi sebagaimana Al Qur’an menegaskan karena Al Hadits yang diucapkan dan perilaku Nabi merupakan pola, model, atau contoh bagi Umat Islam, maka Hadits pun mempunyai nilai-nilai abadi.

Dari kedua nilai, kedua warisan yaitu Al Qur’an dan Hadits, kita memperoleh nilai yang transhistoris.

Kemudian pada kurun waktu sekarang ini kita pun menerimanya, dan harus kita terjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kepada siapa nilai-nilai transendental itu berbicara? Tentunya kepada umat manusia.

Manusia merupakan agen karena hanya manusia yang sanggup memikul beban sebagai khalifah Tuhan di muka bumi.

Tiga macam Realitas

Pertama-tama manusia menciptakan real-itas baru pada waktu bersentuhan dengan nilai-nilai transendental AI Qur’an dan Hadits.

BACA JUGA :   Gerakan Buruh dalam Sejarah Politik Indonesia

Manusia menciptakan realitas subyektif. Kemudian dari real-itas subyektif ini timbul real-itas lain yaitu real-itas simbolik dan realitas obyektif.

Apakah yang dimaksudkan dengan ketiga realitas itu?

Pertama, realitas subyektif yaitu nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits yang menimbulkan kepribadian, personality.

Di sinilah kita melihat kedewasaan. rasa aman, di dalam diri kita.

Kemudian realitas subyektif itu mempunyai kapasitas yaitu akal, perasaan-perasaan, dan juga kemampuan untuk menangkap tanda-tanda atau ayat-ayat Allah.

Di sinilah kemudian realitas subyektif itu mengenal iman, mengenal taqwa, ihsan, tawakal. Dan Allah SWT selalu melihat kepada realitas subyektif kita.

Kita dinilai, apakah diri kita itu sesuai dengan perintah-perintah Allah, nilai-nilai transendental yang diwariskan oleh Nabi.

Dengan kata lain, kepribadian atau realitas subyektif selalu dinilai oleh Nya.

Kadang-kadang dalam realitas subyektif itu terjadi krisis-krisis karena kita dihadapkan kepada kenyataan obyektif.

Iman kita selalu dihadapkan pada cobaan-cobaan. Allah mengatakan bahwa iman memang selalu dicoba.

Dan hanya mereka yang benar beriman dan bertaqwa mampu mengatasi krisis itu.

Kemudian real-itas subyektifnya akan dinilai oleh Allah SWT sebagai yang beruntung.

Kedua, Realitas simbolik adalah aktualisasi dari realitas subyektif. Di dalam hidup kita selalu mencipta, bersifat kreatif, berpikir, menciptakan konsepsi-konsepsi.

Dalam perjalanan hidup kita selalu mengadakan refleksi-refleksi tentang pertautan nilai-nilai transendental dengan realitas-realitas sehari-hari.

Kemudian kita menciptakan antara lain: ilmu, seni, sejarah, filsafat, dan kebudayaan.

Khususnya bagi umat Islam, kita menerjemahkan nilai-nilai transendental, menginterpretasikan kembali.

Kita hadapkan nilai-nilai kepada dunia, pada hidup sehari-hari, atau kepada realitas obyektif.

Oleh karena itu umat Islam selalu bersifat kreatif, selalu menciptakan sesuatu yang baru yang bersifat konseptual, atau yang berupa pemikiran-pemikiran.

Di sinilah letak tantangan untuk menciptakan realitas simbolik. Real-itas simbolik itu selalu berkembang dan mengalami perubahan-perubahan.

Ketiga, realitas obyektif, kita kenal sebagai hidup sehari-hari. Misalnya, kita berjalan-jalan di trotoar, di kantor, dalam suatu dunia obyektif, dunia yang kongkret,

yaitu dunia yang merupakan obyektifasi, pengejawantahan dari nilai-nilai subyektif.

Kita lihat misalnya lembaga-lembaga agama, ekonomi, politik, hukum, pemerintahan. Kita lihat real estate, pabrik-pabrik.

Benda-benda kongkret yang dipakai manusia merupakan obyektifasi dari kehidupan manusia. Di sini kita lihat yang serba kongkret.

Cegahlah dengan Tanganmu

Yang dimaksudkan dengan sistem dalam ayat 137, surat Ali Imran tadi adalah ketiga realitas itu.

BACA JUGA :   Kemiskinan Struktural Menurut Hadi Supeno

Jadi sistem meliputi realitas subyektif, realitas simbolik, dan realitas obyektif.

Sekarang bagaimana sebagai Muslim kita menghadapi berbagai sistem itu. Ada perbedaan realitas subyektif seorang Muslim dengan seorang non-Muslim.

Terlihat perbedaan antara realitas simbolik yang diciptakan Muslim dan non Muslim. Terkadang kita menyesal melihat kaum Muslimin tidak dapat mengaktualisasikan dirinya.

Kaum Muslimin sekarang paling banyak hanya mencapai tingkat realitas subyektif. Oleh karena itu kita harus berusaha mencapai iman, taqwa, ihsan, dan sebagainya.

Tapi kita sangat perlu sekali menciptakan realitas simbolik. Kita sedikit sekali menciptakan ilmu pengetahuan Islam, sosiologi Islam, ilmu politik Islam.

Sedikit sekali menciptakan filsafat Islam. Kita hidup di tengah lingkungan realitas simbolik yang non-Islam.

Ini merupakan ancaman terhadap kehidupan Islam. Kita juga hidup dalam realitas obyektif yang diciptakan oleh orang-orang non-Muslim.

Misalnya dalam sistem ekonomi, kita dipengaruhi oleh sistem kapitalis di satu pihak. Di pihak lain kita melihat adanya sistem komunis, Marxis dan Leninis.

Kita belum melihat sistem ekonomi Islam sebagai realisasi nilai transendental Al Qur’an dan Hadits yang merupakan jalan ke luar dari semua kemelut.

Kita selalu dihadapkan pada dunia obyektif yang bahkan berlawanan dengan nilai Islam.

Hal itu sangat mengganggu pikiran kita, oleh karena kita tak sepenuhnya dapat menciptakan suatu realisasi subyektif,

tak sepenuhnya dapat menjadi pribadi Muslim yang baik di tengahotengah dunia yang serba kacau ini.

Tak bisa menjadi Muslim yang matang, dewasa ini di tengah-tengah realitas simbolik yang non-Muslim, di tengah realitas obyektif yang non-Muslim.

Jadi kita selalu merasa tidak aman di tengah-tengah dunia.

Akan tetapi Allah selalu memberi harapan kepada kita dalam menghadapi kontradiksi yang tidak terdamaikan

antara Muslim dan non-Muslim antara sistem yang diciptakan oleh mukminin dan sistem yang diciptakan oleh kaflrin.

Kita selalu dihimbau oleh Allah bahwa pada akhimya kebenaranlah yang pasti menang.

Allah selalu menekankan bahwa sistem yang diciptakan orang-orang yang non-Muslim akan runtuh.

Dalam surat Al Ankabut (surat kc 29 ayat 41) digambarkan bahwa sistem yang diciptakan orang-orang yang mencari Tuhan selain Allah sebagai rumah laba-laba yang utuh.

Sebab kalau suatu kali datang angin rumah laba-laba pun runtuh.

BACA JUGA :   Nasionalisme sebagai Prospek Belajar

Demikianlah kita percaya bahwa bila kita benar-benar beriman dan bertaqwa kita akan sanggup merealisasikan diri kita,

mengaktualisasikan diri, tidak saja realisasi subyektif tetapi juga realisasi simbolik dan realisasi obyektif.

Dalam sebuah Hadits dikatakan bahwa kita harus mencegah kemungkaran dengan tangan kita;

kalau tidak mampu, dengan lisan; dan kalau tidak bisa, setidak-tidaknya dalam hati kita.

Kalau Hadits ini kita tata, dari Hadits yang bersifat menegasikan menjadi yang bersifat positif, maka akan berbunyi:

yang dianjurkan adalah menciptakan realitas obyektif, artinya dari nilai-nilai transendental yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadits itu kita sanggup memasukkannya dalam masyarakat,

sanggup membangun sistem Islam tersendiri yang meliputi sistem ekonomi, politik, sosial, dsb nya.

Jadi yang utama kita lakukan adalah berbuat dengan tangan, yang kongkret obyektif, dapat diraba dan dirasa.

Jika tidak bisa, setidak-tidaknya kita harus sanggup menciptakan realitas simbolik, berbuat secara lisan dalam arti membual konsep, berpikir tentang sistem ekonomi Islam, sistem politik Islam, dsbnya.

Kemudian jika itu pun tidak bisa, kita selalu kembali kepada realisasi subyektif; setidak-tidaknya kita harus menciptakan sistem itu hidup dalam hati kita.

Dalam hal ini kita harus menghayati nilai transendental Al Qur’an dan Hadits.

Dengan kata lain selain Allah selalu mcnilai realitas subyektif, tetapi dianjurkan supaya kita sanggup menciptakan realitas obyektif kalau tidak bisa,

baru yang simbolik; dan minimal kembali ke realitas subyektif.

Jadi kita dapat menyimpulkan sebenarnya masih banyak sekali tugas di hadapan kita.

Sebagai selalu dianjurkan dalam Al Qur’an kalau iman harus diikuti dengan amal.

Artinya, aktualisasi diri itu pertama-tama dalam realitas subycktif kita, tetapi juga harus disertai realitas yang obyektif.

Bukan saja kita iman, tetapi kita harus berbuat yang kongkret.

Hanya hal-hal yang simbolik dan kongkretlah yang dapat berkomunikasi, yang dapat dirasakan oleh orang lain, yang dapat dinikmati oleh orang lain.

Allah mengatakan bahwa Islam adalah rahmat untuk seluruh semesta, karena itu adalah kewajiban kita untuk menjadikan Islam sesuatu yang kongkret,

sesuatu yang memasyarakat, dan sesuatu yang setiap orang dapat bernaung di dalamnya. Insya Allah. (*)

Penulis : Dr Kuntowijoyo

Artikel ini pernah dipublikasikan dalam buku berjudul Mengenal Cakrawala yang diterbitkan Shalahuddin Press pada 1985.

Tinggalkan Komentar