Hukum Nikah Mut’ah

Hukum nikah mut’ah — Tulisan ini adalah ringkasan pemiki­ran Allamah Tha­bathabaii dalam bukun­ya Al Mizan Fi Tafsiri Qur’an yang mem­ba­has surah an-Nisa ayat (24) (edisi Bahasa Indone­sia diter­jemahkan oleh Syam­suri Rifa’i. Diter­bitkan oleh Pener­bit Mah­di, jakar­ta tahun 1993).

Pan­dan­gan Tha­bathaba’i Ten­tang Nikah Mut’ah dari Per­spek­tif Hadis

Dasar Hukum Nikah Mut’ah

Hukum Nikah Mut'ah
Hukum Nikah Mut’ah

Dasar hukum yang men­ja­di san­daran dalam perkaw­inan mut’ah adalah fir­man Allah SWT dalam surah an-Nisa ayat (24):

Apa­bi­la kamu telah berse­nang senang (Istam­ta’­tum) den­gan salah seo­rang diantara mere­ka, maka berikan­lah kepa­da mere­ka maharnya, seba­gai suatu kewa­jiban.

Dari keteran­gan di atas jelas bah­wa yang di mak­sud­kan oleh kata Istam­ta’­tum dalam ayat ini adalah untuk isti­lah nikah mut’ah, tan­pa per­lu di ragukan.

“Kare­na ayat ini adalah ayat Madaniyah (Turun dalam peri­ode Mad­i­nah) yang ter­da­p­at dalam surah an-Nisa, turun pada perten­ga­han awal masa Nabi saw sete­lah hijrah (dari Makkah).

Baca Juga:

Iran Syi­ah Mili­ki Arsitek­tur 8.000 Tahun, Ada Gunung Tert­ing­gi di Dunia

Teori Kead­i­lan Menu­rut Kaum Asy‘ari, Syi‘ah dan Muk­tazi­lah

Ini dibuk­tikan oleh ayat-ayat yang lain. Dan tidak per­lu diragukan bah­wa nikah ben­tuk ini ter­ja­di dan dilakukan para saha­bat pada saat itu.

Banyak riway­at yang menun­jukkan pada peri­s­ti­wa ini. Yang jelas nikah ini den­gan nama nikah mut’ah telah ada di ten­gah-ten­gah para saha­bat Nabi saw, ia dil­i­hat dan diden­gar dari Nabi saw, dan nikah ini tidak diungkap kecuali den­gan lafazh (isti­lah) ini.

Den­gan demikian, maka tidak dap­at dielakkan bah­wa fir­man Allah dalam surah an-Nisa ayat (24) men­gan­dung mak­na nikah ini, dan mak­na ini meru­pakan pengert­ian darinya.

Hal terse­but seper­ti selu­ruh sunah dan tra­disi yang berlaku di ten­gah-ten­gah para saha­bat keti­ka ayat-ayat Al-Qur’an turun den­gan isti­lah-isti­lah ter­ten­tu.

Seti­ap ayat yang turun ia men­je­laskan suatu hukum, dan berkai­tan den­gan sesu­atu yang ada pada nama-nama itu, pene­ta­pan atau peno­lakan, per­in­tah atau larangan.

Maka, tidak layak angga­pan isti­lah yang ter­da­p­at pada ayat ini, tidak memi­li­ki mak­na secara bahasa yang asli.

Hal ini seper­ti haji, jual beli, riba, keun­tun­gan, ghan­imah, dan lain­nya. Kare­na itu tidak dap­at dielakkan bah­wa, isti­lah-isti­lah yang jelas di dalam Al-Qur’an memi­li­ki mak­na dalam bahasa yang asli sete­lah pena­maan itu ter­wu­jud­kan dan hakekat syari­at­nya dire­al­isas­ikan, ser­ta hukum­nya dite­tap­kan.

Arti Kata Istamta’a

Kata istam­ta’a, dalam ayat ini men­gan­dung mak­na nikah mut’ah. Kare­na nama ini telah digu­nakan oleh para saha­bat Nabi saw pada saat turun­nya ayat ini, baik ada angga­pan nikah mut’ah itu diman­sukh oleh ayat yang lain, atau sunah ataupun yang lain­nya.

Kes­im­pu­lan­nya, hukum nikah mut’ah adalah pengert­ian yang di ambil dari ayat ini. Pengert­ian itu diku­tip dari orang-orang ter­dahu­lu, yakni para ahli tafsir dari kalan­gan saha­bat dan tabi’in seper­ti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’b, Qatadah, as-Su’­di, Ibnu Zubair, al-Hasan, dan lain­nya yakni dari para Imam mazhab Ahlul Bait.

Riway­at Pen­dukung Ayat (24) Sarah An-Nisa Seba­gai Dasar Nikah Mut’ah

Dalam kitab al-Kaji, den­gan sanad dari Abu Bashir, ia berka­ta, aku bertanya pada Abu Ja’­far (Imam Muham­mad al-Bagir) ten­tang mut’ah, maka ia men­gatakan bah­wa mut’ah itu ditu­runk­an melalui ayat Al-Qur’an:

Apa­bi­la kamu telah berse­nang-senang (istam­ta’­tum) den­gan salah semang diantara mere­ka, maka berikan­lah kepa­da mere­ka maharnya seba­gai suatu kewa­jiban; dan tidak­lah men­ga­pa bagi kamu ter­hadap sesu­atu yang telah kamu sal­ing mere­lakan, sesu­dah menen­tukan mahar itu. (QS. an-Nisa: 24)

Dalam kitab yang sama den­gan sanad dari Ibnu Abi Amir, dan orang yang menye­butkan dari Abu Abdil­lah, ia berka­ta,

“Sung­guh hukum mut’ah itu telah di turunk­an; Apa­bi­la kamu menikahi salah seo­rang di anyara mere­ka, sam­pai wak­tu yang telah (diten­tukan, berikan­lah kepa­da mere­ka maharnya seba­gai suatu kewa­jiban.”

juga riway­at di atas dis­am­paikan oleh al-‘Ayyasyi dan Imam Muham­mad al-Baqir, dan seper­ti ini juga di riway­atkan oleh jumhur ula­ma dcn­gan sanad yang banyak, dari Ubay bin Ka’ab dan Abdu­lah bin Abbas.
jadi, mak­sud riway­at-riway­at yang semak­na den­gan riway­at terse­but menun­jukan kepa­da mak­na yang dike­hen­da­ki oleh ayat ini, tidak turun hanya sekedar uca­pan kata demi kata saja.

juga dalam kitab itu den­gan sanad dari Abdur­rah­man bin Abi Abdil­lah, ia berka­ta, “Aku menden­gar Abu Han­i­fah bertanya kepa­da Abu Abdil­lah (Imam ja’­far as-Shadiq) ten­tang mut’ah.

Beli­au berka­ta: ‘Mut’ah yang mana yang hen­dak kamu tanyakan?’ Ia berka­ta, ‘Saya telah bertanya kepa­da Anda ten­tang mut’ah haji, kemu­di­an beri­tahukan ten­tang mut’ah wani­ta, benarkah itu?’

Maka Imam Ja’­far berka­ta, ‘Sub­hanal­lah, tidakkah kamu mem­ba­ca kitab Allah Azza wa jal­la:

Apa­bi­la kamu telah berse­nang-senang (istam­ta’­tum) den­gan salah seo­rang diantara mere­ka, maka berikan­lah kepa­da mere­ka maharnya seba­gai suatu kewa­jiban.

Maka Abu Han­i­fah berka­ta, ‘Demi Allah, seo­lah-olah aku belum mem­ba­ca ayat ini sama sekali.”

Kemu­di­an dise­butkan dari Abu Bashir, Imam Muham­mad al Bagir berka­ta, “Sehubun­gan den­gan nikah mut’ah maka ditu­runk­an­lah ayat (24) dari surah an-Nisa.”

Selan­jut­nya dia katakan, “Tidak men­ga­pa kamu menam­bah­nya dan dia menam­bah­mu bila wak­tu yang di ten­tukan telah habis diantara kalian berd­ua; dan diha­lalkan bagi kamu den­gan wak­tu yang lain atas kere­laan darinya, dan tidak diha­lalkan bagi selain kamu sehing­ga habis masa iddah-nya, iddah-nya adalah dua kali haid.”

Per­lu dike­tahui bah­wa riway­at-riway­at sehubun­gan den­gan mak­na terse­but banyak dan mutawatir dari para Imam Ahlul bait.

Bagi yang ingin menge­tahui lebih lan­jut, hen­daknya mem­pela­jari kitab Jawami’ul Hadis.

Tulisan ini disadur dari buku berjudul Perkaw­inan Mut’ah
Pener­bit Lentera

Edi­tor: Ibnu Mustafa

Pos terkait