Budaya Bugis Pinrang Maccera Siwannua, Terlupakan?

Budaya Bugis Pin­rang Mac­cera Siwan­nua harus dija­ga. Jan­gan biarkan punah, kare­na pen­garuh budaya luar.

Bila ingin men­ja­ganya. Jan­gan men­gang­gap, kebu­dayaan orang lebih baik dari kebu­dayaan kita sendiri.

Bacaan Lain­nya

Tetapi jan­gan pula sam­pai men­gang­gap budaya orang lain hina sehing­ga tidak mem­pela­jarinya. Hanya saja, jan­gan sam­pai kebu­dayaan sendiri terlu­pakan.

Seper­ti Budaya Bugis Pin­rang Mac­cera Siwan­nua, ini. Budaya yang lahir dari tra­disi nenek moyang ini. Jan­gan biarkan hilang dite­lan zaman edan ini.

Berun­tung, Budaya Bugis Pin­rang satu ini masih ada hing­ga sekarang. Namun, tak ada jam­i­nan akan terus ter­ja­ga bila gen­erasi muda Pin­rang kian hari kian terke­na sin­drom xenosen­trisme.

Apa Itu Maccera Siwannua?

Budaya Bugis Pin­rang Mac­cera Siwan­nua ter­diri atas dua kata. Per­ta­ma Mac­cera yang berar­ti menyu­cikan dan ked­ua Siwan­ua yang berar­ti satu kam­pung.

Budaya tra­di­sion­al ini masih bisa kita jumpai hing­ga sekarang yakni di Desa Alit­ta, Keca­matan Mat­tiro Bulu, Kabu­pat­en Pin­rang dan sudah dilakukan lebih dari ser­a­tus tahun lebih.

Berdasarkan penelit­ian yang dilakukan Muh. Ardi Akam Lawwarani dan Nur Alizah dari Uni­ver­si­tas Hasanud­din pada 2018 lalu, sebe­narnya inti dari tra­disi ini adalah pemo­ton­gan ker­bau hitam atau masyarakat setem­pat menye­but­nya, Tedong Bolong Mat­tan­ru Ulaweng.

Artinya sebuah ker­bau hitam yang memi­li­ki tan­duk emas. Namun tan­duk emas yang dimak­sud­kan hanyalah kiasan. Bukan tan­duk ker­bau seper­ti apa adanya.

Tan­duk ker­bau emas yang dimak­sud­kan ini adalah, sebuah jarum yang ter­bu­at dari emas murni yang kemu­di­an ditan­cap­kan di sek­i­tar tan­duk ker­bau terse­but.

Lalu kemu­dia diarak kelil­ing kam­pung. Diirin­gi per­lengka­pan seper­ti ban­ran­ga, gonceng-gonceng (seje­nis alat musik gen­dang). Sete­lah itu dikubur.

“Saat ini Mac­cera Siwan­ua dirangkaikan den­gan pes­ta raky­at seba­gai ben­tuk peng­hor­matan kepa­da Raja La Mas­so­ra Rit­u­al. Tujuan­nya untuk meno­lak bala, penyu­cian kam­pung, dan mem­buang sial.”

Sekadar dike­tahui, Mac­cera Siwan­ua juga biasa dise­but den­gan Mac­cera Ara­jang. Budaya Bugis Pin­rang Mac­cera Siwan­nua ini adalah salah satu adat isti­a­dat yang dilakukan di Bujung Lapakki­ta.

Tujuan uta­manya untuk mem­berikan persem­ba­han kepa­da Ara­jang Alit­ta. Selain itu seba­gai salah satu yang kini men­ja­di pes­ta raky­at den­gan hara­pan penyu­cian kam­pung.

Den­gan rit­u­al terse­but pen­duduk kam­pung dihara­p­kan bisa ter­hin­dar dari bala atau sial, yang ten­tun­ya pula agar bisa mem­per­erat hubun­gan emo­sion­al antar­masyarakat.

Apakah kebu­dayaan ini akan hilang dite­lan zaman. Jan­gan biarkan. Mari untuk terus bersama-sama melestarikan­nya atau jan­gan-jan­gan gen­erasi zaman sekarang malah sudah ada yang tak tahu apa itu Mac­cera Siwan­nua. (*)

Pos terkait