Bahasa Tionghoa, Dao De Jing: Akar Pokok Bangsa Tionghoa

Bahasa Tionghoa

Dao De Jing: Akar Pokok Bangsa Tionghoa. Dia adalah Perintis Pemikiran Demokrasi Tionghoa. Memiliki bahasa Tionghoa tersendiri dalam menerjemahkan seperti apa itu demokrasi.

Inti Pemikiran yang Konsisten Adalah Demokrasi.

Belakangan ini saya memperhatikan sebagian ‘Patriot palsu’ berkoar menentang Barat, tentu saja tujuan tokoh nyata di belakang layar mereka adalah anti demokrasi dan membela kediktatoran.

Maka ‘Patriot palsu’ bersamaan dengan penen-tangan terhadap Barat, juga menentang demokrasi, malah menggandengkan kedua pe-ngertian itu menjadi satu, disebut ‘Demokrasi Barat’.

Suatu hari, seorang ‘patriot palsu’ mengatakan kepada saya, “Profesor Guo, Anda adalah pakar ilmu ketatanegaraan, mengapa ikut mempromosikan demokrasi Barat?”

Baca Juga:

Macam-Macam Bahasa dan Perkembangan Bahasa

Pengertian Fonologi Menurut Beberapa Ahli

Saya terheran-heran dengan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai patriot, mengapa tidak dapat mengetahui bahwa demokrasi bukanlah monopoli Barat, melainkan adalah nilai yang dikejar bersama oleh umat manusia di dalam proses sejarah yang panjang dan hasil peradaban yang diciptakan bersama? .

Itulah mengapa, saya merasa sangat perlu memberi sebuah pelajaran ilmu ketatanegaraan kepada kaum ‘patriot palsu’ tersebut. Meski itu bukan dalam bentuk bahasa Tionghoa.

Sesudah lulus dari kuliah pada 1990, saya ditugaskan bekerja pada perusahaan cabang pertama dari perusahaan transportasi mobil Jinling – propinsi Jiangsu.

Cabang perusahaan tersebut jauh dari batas kota Nanjing. Apabila terjadi hujan deras, maka saya menginap di atas sofa kantor . Dengan bahasa Tionghoa yang pas-pasan saya bisa segera beradaptasi di sana.

Setelah bekerja selama 2 tahun di sana, ada sebuah buku yang selalu mendampingi saya, ialah Dao De Jing: Perintis Pemikiran Demokrasi Tionghoa yang diterbitkan oleh penerbit Zhong Zhou Gu Ji, diedit oleh Mr. Zhao Yumin dan Mr. Zhao Lin.

Di kala membaca buku itu tujuannya hanya demi menghafalkan Dao De Jing (kitab suci agama Tao), sama sekali tidak memperhatikan sub judulnya yakni: Perintis Pemikiran Demokrasi Tionghoa.

Pada 1992, melalui ujian kepegawaian negeri, saya diterima bekerja pada komite reformasi ekonomi Nanjing.

Setelah merasakan kediktatoran dan otoriter sistem politik Tiongkok, saya tiba-tiba saja memikirkan dua aksara ‘Demokrasi’ pada subjudul tersebut.

Kemudian saya kuliah pasca sarjana untuk master jurusan ilmu hukum dan untuk doktor dalam ilmu filsafat di Universitas Nanjing, di dalam benak senantiasa terbayang dua aksara ‘Demokrasi’.

14 November 2007, pada akhirnya, penelitian saya selama bertahun-tahun mengenai hubungan demokrasi dengan ke-budayaan tradisional Tiongkok, telah saya serahkan kepada ketua Hu Jintao.

Judul kecil pada bagian ke 3 dari surat terbuka tersebut berbunyi: Teori Demokrasi dari Politik Sistem 2 partai (Partai penguasa dan oposisi) bukan monopoli Barat.

Tentang doktrin Yin-Yang (Positif-Negatif), peneliti terbaik ialah Laozi (pendiri Taoisme), 5.000 aksara Dao De Jing, kaya makna dan mendalam, bukan saja menempati posisi sejarah penting di Tiongkok, tetapi bahkan juga telah menimbulkan pengaruh meluas di lingkup dunia.

Dua buku dengan peredaran terluas di dunia ialah Bible (Injil) dan satunya lagi Dao De Jing.

Doktor Joseph Needham, 1900-1996, seorang pakar sejarah teknologi ilmiah Tiongkok, memiliki pemahaman mendalam terhadap Dao De Jing, tulisannya The Tao Chia (Taoist) and Taoism (Kaum Taois dan Taoisme), yang dikutip ke dalam bab ke-2 History of Scientific Thought (Sejarah Pemikiran Ilmiah) dari Science and Civilization in China (Pengetahuan dan Peradaban di Tiongkok) menunjukkan:

“Orang yang menyebut pemikiran Taois bersifat keagamaan dan penyair, tentu tidak salah, namun ia minimal juga sama kuatnya dalam sifat: keilmiahan dan kedemokrasian, selain itu di dalam bidang politik adalah revolusioner.”

Selama kuliah pasca sarjana enam tahun di Universitas Nanjing, saya melakukan 2 tahun penelitian ‘Pasca doktoral’ di IKIP – Nanjing, diantaranya berkenalan dengan banyak mahasiswa luar negeri yang mempelajari kebudayaan Tiongkok, bahasa Tionghoa.

Mereka selain hafal Bible, tingkat penguasaan mereka terhadap Dao De Jing bisa-bisa membuat malu kebanyakan orang Tionghoa. Apalagi dari segi bahasa. Mereka lebih paham.

Di dalam dialog, mereka menyitir potongan-potongan besar teks orisinil Dao De Jing dengan hafal di luar kepala, hal ini telah meninggalkan kesan teramat mendalam bagi saya. P

Sebelum membahas artikel ini lebih lanjut, saya ingin membicarakan sejenak tentang pengaruh Dao De Jing terhadap ilmu filsafat Jerman.

Sejak abad ke-16, Leibnitz, Hegel, Schopenhauer, Nietzsche dan Heideger dipengaruhi oleh pemikiran Laozi, dan mereka menga-presiasi tinggi pemikiran Laozi.

Terjemahan Dao De Jing ke dalam bahasa Jerman mencapai 82 macam, hasil karya yang spesial meneliti pemikiran Laozi juga mencapai 700 macam lebih. Tentunya buku ini adalah dari bahasa Tionghoa yang kemudian diterjemahkan.

Leibnitz, pakar ilmu filsafat Jerman justru pada awalnya berdasarkan doktrin Yin-Yang dari Fu Xi Huang Lao telah mengajukan pemikiran Binary Thinking.

Pada saat ia selesai membaca buku terjemahan bahasa Latin untuk pertama kalinya, tentang He Tu Luo Shu dari Tiongkok, ia tercengang dan berseru, “Ini adalah sebuah misteri tertinggi alam semesta.” .

Berulang-ulang memuji bahwa orang Tionghoa betul-betul terlalu besar, seketika itu juga memberi nama Barat ‘Dialectics’ bagi Tai Ji – Yin Yang – Ba Gua.

Dari situ terlihat doktrin Fu Xi Huang Lao yang diwakili oleh Laozi, barulah bapak Dialectics sesungguhnya.

Ulasan Leibnitz tentang ilmu Dialectics sangat mempengaruhi Kant, sehingga Kant menjadi pakar ilmu filsafat terkenal, menjadi peletak dasar dan penggagas ilmu Dialektika.

Sedangkan Hegel mewarisi Kant, memandang doktrin Laozi sebagai ilmu filsafat sejati, yang dikatakan Laozi tentang “Satu melahirkan dua, dua melahirkan tiga, tiga melahirkan segenap makhluk” dikembangkan dan dibahas sampai ke akar-akarnya, sehingga ilmu filsafat tersebut selaras dengan logika, penuh dengan daya hidup, teori yang segar dan baru, pembabarannya mengharukan.

Hegel meneliti setiap proposition, total berdasarkan bentuk 3 dimensional yakni Zheng (Yang) – Fan (Yin) – He (Zhong) / Lurus (Positif) -Bengkok (Negatif) – Menyatu (Tengah) dari Tai Ji-gram.

Schopenhauer, guru besar ilmu filsafat dan fatalisme, di dalam muara spiritnya terdapat bayangan Laozi.

Filsuf Jerman, Nitzsche sesudah membaca habis Dao De Jing, sempat terkagum-kagum, mengatakan bahwa pemikiran Laozi ‘Bagaikan sumber sumur yang tak bakal kering, penuh terisi mustika, menurunkan timba, teraih sudah’.

Heideger, pakar filsafat malahan memandang ‘Dao’ dari Laozi sebagai sumber yang mendorong maju pemikiran manusia. Pada 1919, seorang penyair Jerman, Graham, menulis Dengarkan, Orang Jerman.

Di dalam artikel itu ia menghimbau orang Jerman semestinya hidup mereka disesuaikan dengan ‘Spirit Taois yang agung’, hendaknya menjadi ‘Orang Tionghoa Eropa’.

Pemuda Jerman sebelum perang dunia ke-2, sewaktu jalan-jalan di hutan di dalam saku mantelnya kebanyakan membawa ‘Zaratustra’ karangan Nitzsche, sesudah perang dunia ke-2 usai, pemuda Jerman beralih membawa Dao De Jingnya Lao Zi.

Dari situ terlihat, Dao De Jing begitu mempengaruhi secara mendalam jalan pikiran orang Barat.

Pemikirian Dao De Jing

Baiklah, mari kita sekarang melihat pemikiran di dalam Dao De Jing apakah terdapat persamaannya dengan politik demokrasi zaman modern ini, atau dikatakan dimanakah terdapat gen politik demokrasi modern yang konon terdapat di dalam Dao De Jing.

1. “Segenap makhluk di alam semesta dilahirkan dari ada, ada dilahirkan dari ketidakadaan”:

Pemerintah adalah organisasi yang berbentuk, tetapi organisasi yang berbentuk ini berasal dari setiap manusia dari organisasi yang tidak diorganisir yang berjumlah tak terhingga dari dalam masyarakat negeri tersebut, yakni rakyat.

Oleh karena itu, keabsahan suatu pemerintah berasal dari pengakuan dan dukungan dari rakyatnya.

2. “Kemuliaan pasti berdasarkan kerendahan sebagai pokok, dan ‘tinggi’ berlandaskan ‘bawah’ sebagai fondasi” :

Dilihat dari permukaan, posisi pemerintah jauh berada di atas, sesungguhnya adalah orang tingkat bawah yang mengabdi (pegawai negeri). Rakyat adalah asal muasal pemerintahan, fondasi dari pemerintahan.

Tocqueville, pengarang dari Perancis mengatakan;

“Negara yang di dalam segala bidang melaksanakan prinsip pemilihan umum, dikatakan dengan serius, tidak memiliki jabatan seumur hidup. Orang-orang bertugas, kebanyakan dikarenakan kebetulan, tiada seorang pun yang dapat memegang erat jabatannya untuk selamanya.”

“Ketika setiap tahun diadakan pemilihan sekali, situasinya misalnya pasti demikian. Di negara demokrasi, setiap tahun selalu terdapat kekuasaan yang ditarik oleh pihak yang pernah memberi mandat untuk memerintah, itulah kenapa mereka sama sekali tidak takut orang-orang itu menyalah-gunakan kekuasaan.”

3. Jati diri konstitusi adalah batasan memerintah, yakni melakukan pembatasan efektif terhadap kekuasaan politik, mencegah penyalahgunaan, terutama harus mencegah disalahgunakan untuk melanggar HAM dan kebebasan manusia.

Jadi, makna dari konstitusi ialah pembatasan kekuasaan politik, penjaminan hak warga, memajukan kesejahteraan umum. Konstitusi diawali dengan politik pembatasan diri. ‘Konstitusisme’ pasti mengakhiri ‘Zaman kekuasaan’.

4. Tiga melahirkan segenap makhluk – Menentang memonopoli menguasai dunia. Dianjurkan trias politika, dimaksudkan sistem pemerintahan dasar negara demokrasi, inti utamanya ialah, kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif saling independen dan saling mengatasi dan menyeimbangkan.

5. Di bawah sistem demokrasi, rakyat adalah majikan negara, sedangkan pejabat pemerintah adalah pelayan.

6. Mendukung demokrasi, menentang kediktatoran.

7. Milik rakyat, diperintah oleh rakyat dan dinikmati oleh rakyat.

8. Pemerintahan yang dibatasi dengan konstitusional demokrasi tidak diperkenankan bertindak semaunya, segala sesuatu dikendalikan oleh rakyat.

9. Bagi pihak pemerintah, menolak sistem seumur hidup; bagi partai yang memerintah, menolak kediktatoran.

Partai yang berkuasa seharusnya setelah batasan waktunya selesai mengembalikan kekuasaannya kepada rakyat, mengembalikan pemerintahan kepada hukum yang berlaku.

10. Dalam penguasaan negara, mengggunakan hati sang penguasa sebagai jiwa; Partai penguasa negara, menggunakan hati satu partai; rakyat di dalam negara, mengunakan hati rakyat. Rakyat di dalam negara yang menggunakan hati rakyat sebagai jiwa, adalah sistem demokrasi.

11. Sistem demokrasi menjamin kebebasan berbicara dan kebebasan pers rakyat.

12. Kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

13. Kebebasan berkepercayaan dan beragama serta kemajemukan kebudayaan suku bangsa.

14. Liberalisasi ekonomi.

15. Masyarakat demokrasi menganjurkan perjanjian/kontrak, masyarakat otoriter.

16. Hayek, master dari liberalisme mengatakan, perkataan Laozi telah mewakili keseluruhan inti sari dari teorinya tentang ‘Keteraturan sosial berdasarkan spontanitas’ yang rumit.

17. Yan Fu (seorang cen-dekiawan zaman kuno) mengatakan, ‘Dao De Jing adalah buku tentang spiritualitas. Demokrasi menggunakan moralitas, penguasa menggunakan etika berbicara sedangkan diktator menggunakan hukum siksaan’. (whs)

Default image
Razan
Articles: 219

Leave a Reply