Beranda Pendidikan Bahasa Melayu Bahasa Indonesia, Begini Sejarahnya

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia, Begini Sejarahnya

91
0
Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia
Unsplash/Kelly Sikkema

Bahasa Melayu Bahasa Indonesia, itulah negara Indonesia. Kedua bahasa ini adalah satu kesatuan.

Setelah membahas mengenai perkembangan bahasa, sekarang tiba saatnya membeberkan sebab-sebab diangkatnya bahasa melayu menjadi pemersatu bangsa.

Namun sebelum membahas mengenai sebab – sebabnya tersebut. Perlu kiranya dibeberkan pula bahasa Indonesia itu adalah merupakan rumpun bahasa Astronesia.

Berikut pembahasannya :

1. Bahasa Indonesia Termasuk Rumpun Bahasa Austronesia

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa daerah Melayu Riau. Bahasa Melayu merupakan bagian dari bahasa Nusantara.

Bahasa Nusantara termasuk rumpun bahasa Austronesia. Karena itu, bahasa Indonesia termasuk rumpun bahasa Austronesia.

Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia juga tak bisa dilepas dari perkembangan Kosakata dari bahasa Melayu itu sendiri.

Pembahasannya seperti di bawah ini :

2. Perkembangan Kosakata

Setelah diangkat menjadi bahasa Indonesia secara resmi, bahasa Melayu banyak menerima kata-kata baru baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing.

Ini dilakukan untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Dalam menerima kata-kata serapan dari bahasa lain, kita harus mengutamakan bahasa daerah.

Apabila dalam bahasa daerah tidak ada, kita dapat menerima kata-kata dari bahasa yang serumpun.

Bahasa aging yang banyak mempengaruhi bahasa Indonesia, antara Iain; bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Sansekerta, bahasa Mandarin, bahasa Persia, dan bahasa Arab.

Sebab musabab bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia juga tak bisa dilepas dari perjalanan panjang bahasa Indonesia.

Baik itu saat zaman kerajaan hingga saat Indonesia di jajah oleh Belanda dan Jepang. Semua punya kisahnya masing-masing.

3. Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

Telah disebutkan di atas bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

Berdasarkan tulisan-tulisan dalam prasasti Kota Kapur, prasasti Kedukan Bukit, prasasti Karang Brahi, dan prasasti Talang Tuo peninggalan zaman Sriwijaya, ternyata bahwa:

a. Bahasa Melayu lebih tua daripada bahasa Jawa Kuno.

b. Bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa persatuan pada masa Sriwijaya.

c. Bahasa Melayu telah lama menerima pengaruh dari bahasa Sansekerta.

d. Bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) di kalangan masyarakat.

Pada tahun 1275 Sriwijaya jatuh. Pusat perdagangan pindah ke Malaka, Begitu pula pusat pemerintahannya.

Sementara itu agama Islam mulai masuk ke Malaka. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar dalam penyebaran agama Islam.

Ketika Portugis mendirikan sekolah-sekolah di Maluku, ia menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.

Pada tahun 1596, Belanda datang di Indonesia. Pada saat itu bahasa Melayu sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut Brugmans, ketika itu bahasa Melayu dipergunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah sebagai pengganti bahasa Belanda.

Di samping itu, dalam administrasi pemerintahan selain bahasa Belanda digunakan pula bahasa Melayu.

Sejak permulaan abad XX timbullah kesadaran di kalangan kaum terpelajar, bahwa hanya dengan persatuanlah bangsa Indonesia dapat terlepas dari penjajahan.

Untuk itu diperlukan bahasa persatuan atau bahasa nasional. Usaha-usaha yang dilakukan kaum terpelajar dalam rangka mewujudkan bahasa nasional:

A. Usaha Dewan Rakyat

Para anggota Dewan Rakyat (Volksraad) mengusulkan kepada Raja Belanda untuk mengubah keharusan pemakaian bahasa Belanda dulam Dewan Rakyat. Usul tersebut dikabulkan.

Akhirnya dipakailah bahasa Melayu dalam perundingan-perundingan.

B. Usaha wartawan

Setelah usaha di kalangan Dewan Rakyat berhasil, maka para wartawan banyak menerbitkan majalah dan surat kabar yang berbahasa Melayu.

Wartawan-wartawan pada waktu itu, antara lain: Adinegoro, Haji Agus Salim, Mr. Sumanung, Mohammad Yamin. dr. A. Rivai, dan dr. Amir.

C. Usaha kaum politikus

Kaum politikus tiduk ketinggalan dalam mewujudkan persatuan bangsa.

Oleh karena itu, dalam Ceramah-Ceramahnya mereka menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarnya.

Organisasi-organisasi pada waktu itu, antara Jain: Budi Utomo, Serikat Islam, dan Partai Nasional Indonesia.

D. Usaha-usaha Balai Pustaka

Setelah Commissie Voor de Volkslectuur diubah menjadi Balai Pustaka, maka dipakailah bahasa Melayu.

Dan bahasa daerah lainnya dalam buku-buku bacaan maupun majalah. Kita mengenal Seri Pustaka dan Panji Pustaka sebagai majalah yang berbahasa Melayu.

Demikian pula kita banyak mengenai, buku-buku Balai Pustaka yang berbahasa Melayu, seperti Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, dan sebagainya.

Itulah sebabnya, Balai Pustaka dikatakan ikut berjasa dalam mempercepat pertumbuhan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.

Usaha kaum muda Pada tanggal 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia berhasil menyelenggarakan kongres yang berhasil mencetuskan sumpah, yang terkenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Bunyi Sumpah Pemuda:

1. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.

2. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3.Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sejak adanya peristiwa Sumpah Pemuda, bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Pada tahun 1933 muncullah sekelompok sastrawan yang menamakan dirinya Angkatan Pujangga Baru.

Tujuannya untuk membentuk kebudayaan Indonesia baru. Dalam mengembangkan bahasa Indonesia kelompok ini terlihat lebih giat dibandingkan dengan Balai Pustaka.

Mereka dipimpin empat serangkai, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Amir Hamzah.

Tahun 1942 Jepang datang di Indonesia. Sejak itu Indonesia dijajah oleh Jepang.

Selama penjajahan Jepang segala yang berbau Belanda dihapus. Termasuk penghapusan pemakaian bahasa Belanda.

Sebagai gantinya, bahasa Indonesia dipergunakan sebagai bahasa resmi negara.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, atas nama bangsa Indonesia, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sehari kemudian diresmikanlah pemakaian Undang-Undang Dasar 1945. Dalam bab XV pasal 36 dinyatakan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia.

Sejak itulah bahasa Indonesia secara resmi dinyatakan sebagai bahasa negara.

Karena kedudukannya yang begitu penting itulah maka bahasa Indonesia merupakan masalah nasional.

Untuk itu, Pemerintah Republik Indonesia mendirikan Lembaga Bahasa Nasional yang kemudian disebut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Tugas pokok lembaga ini adalah menyelenggarakan kebijaksanaan nasional yang berhubungan dengan perkembangan dan pertumbuhan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.

Kebijaksanaan nasional inilah yang disebut Politik Bahasa Nasional. Sekarang tibalah saatnya membahas mengenai sebab diangkatnya bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia.

Berikut pembahasannya :

4. Sebab-Sebab Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia

Ada beberapa pertimbangan dalam pengangkatan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Diantara pertimbangan-pertimbangan yang dimaksud ialah:

a. Bahasa Melayu telah lama dipakai sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) diantara suku-suku bangsa di Indonesia.

b. Bahasa Melayu bersifat demokratis. Artinya, bahasa Melayu tidak mengenal pelbagai tingkatan seperti bahasa Sunda dan Jawa.

Karena sifatnya yang sederhana, maka bahasa Melayu mudah dipelajari.

c. Bahasa Melayu telah banyak digunakan dalam pelbagai prasasti, seperti prasasti Karang Brahi, prasasti Kota Kapur, prasasti Kedukan Bukit, dan sebagainya.

d. Bahasa Melayu telah lama digunakan dalam buku-buku bacaan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Referensi : Budiman, Sumiati. 1987. Sari Tata Bahasa Indonesia seri 1. Klaten : PT Intan Pariwara

Penulis : Sumiati Budiman

Tinggalkan Komentar