Bagaimana Memaknai Proses Perancangan dan Isi dari Rumusan Dasar Negara yang Bernama Piagam Jakarta

Bagaimana Memak­nai Pros­es Per­an­can­gan dan Isi dari Rumu­san Dasar Negara yang Berna­ma Piagam Jakar­taPiagam Jakar­ta meru­pakan rumu­san dasar negara Indone­sia yang dite­tap­kan pada tang­gal 22 Juni 1945.

Piagam Jakar­ta men­ja­di dasar bagi negara Indone­sia dalam men­jalankan sis­tem pemer­in­ta­han dan men­gatur hubun­gan antara pemer­in­tah dan raky­at.

Bacaan Lain­nya

Bagaimana sebe­narnya pros­es per­an­can­gan dan isi dari rumu­san dasar negara yang berna­ma Piagam Jakar­ta? Mari kita bahas secara detail dalam artikel ini.

Memahami Proses Perancangan dan Isi Piagam Jakarta

Apa itu Piagam Jakarta?

Piagam Jakar­ta adalah sebuah doku­men yang diadop­si oleh Pani­tia Per­si­a­pan Kemerdekaan Indone­sia pada tang­gal 22 Juni 1945. Doku­men ini kemu­di­an men­ja­di dasar negara Indone­sia dalam mem­ben­tuk pemer­in­ta­han dan men­gatur hubun­gan antara pemer­in­tah dan raky­at. Piagam Jakar­ta ter­diri dari empat bab yang mas­ing-mas­ing men­gatur ten­tang hak asasi manu­sia, susunan pemer­in­ta­han, kebi­jakan luar negeri, dan per­al­i­han kekuasaan.

Bagaimana Proses Perancangan Piagam Jakarta?

Pros­es per­an­can­gan Piagam Jakar­ta dim­u­lai sejak tahun 1944 keti­ka ter­ben­tuk Pani­tia Per­si­a­pan Kemerdekaan Indone­sia.

Pani­tia ini ter­diri dari tokoh-tokoh nasion­alis Indone­sia yang berasal dari berba­gai organ­isasi seper­ti Par­tai Sosialis Indone­sia, Par­tai Komu­nis Indone­sia, dan Par­tai Nasion­al Indone­sia. Pani­tia ini bertu­gas untuk menyusun dasar negara Indone­sia yang akan dijadikan pedo­man dalam mem­ben­tuk pemer­in­ta­han.

Pada awal­nya, Pani­tia Per­si­a­pan Kemerdekaan Indone­sia men­gadop­si Piagam Atlantic seba­gai dasar untuk menyusun Piagam Jakar­ta. Namun, sete­lah melalui diskusi dan perde­batan yang pan­jang, akhirnya dipu­tuskan untuk menyusun Piagam Jakar­ta yang men­gacu pada nilai-nilai Pan­casi­la seba­gai dasar negara Indone­sia.

Pros­es per­an­can­gan Piagam Jakar­ta dilakukan secara demokratis den­gan meli­batkan semua anggota pani­tia dalam diskusi dan perde­batan. Sela­ma pros­es per­an­can­gan, ter­da­p­at beber­a­pa perbe­daan pan­dan­gan di antara anggota pani­tia terkait den­gan isi dan tujuan dari Piagam Jakar­ta. Namun, melalui diskusi yang pan­jang dan menguta­makan kepentin­gan nasion­al, akhirnya ter­ca­pai kesep­a­katan untuk mene­tap­kan Piagam Jakar­ta seba­gai dasar negara Indone­sia.

Apa Isi dari Piagam Jakarta?

Isi dari Piagam Jakar­ta ter­diri dari 13 pasal yang men­je­laskan ten­tang prin­sip-prin­sip dasar negara dan keten­tu­an-keten­tu­an umum dalam men­jalankan negara. Beber­a­pa isi pent­ing dalam Piagam Jakar­ta antara lain:

  1. Pasal 1: Negara Indone­sia adalah sebuah negara merde­ka dan berdaulat yang ter­letak di wilayah Indone­sia.
  2. Pasal 2: Negara Indone­sia didirikan untuk melin­dun­gi sege­nap bangsa Indone­sia dan selu­ruh tumpah darah Indone­sia, ser­ta untuk mema­jukan kese­jahter­aan umum, mencer­daskan kehidu­pan bangsa, dan ikut melak­sanakan ketert­iban dunia.
  3. Pasal 3: Ben­tuk negara Indone­sia adalah negara kesat­u­an yang berben­tuk repub­lik.
  4. Pasal 4: Lam­bang negara Indone­sia adalah Garu­da Pan­casi­la den­gan sem­boy­an “Bhin­neka Tung­gal Ika”.
  5. Pasal 5: Bahasa negara Indone­sia adalah bahasa Melayu.
  6. Pasal 6: Aga­ma negara Indone­sia adalah aga­ma yang diakui dan dianut secara luas oleh seba­gian besar pen­duduk Indone­sia.
  7. Pasal 7: Kekuasaan tert­ing­gi dalam negara Indone­sia bera­da pada raky­at.
  8. Pasal 8: Kekuasaan negara dijalankan oleh tiga lem­ba­ga yaitu Majelis Per­musyawaratan Raky­at (MPR), Pres­i­den, dan Dewan Per­wak­i­lan Raky­at (DPR).
  9. Pasal 9: Kedudukan Pres­i­den seba­gai kepala negara dan kepala pemer­in­ta­han dijalankan secara kolek­tif oleh Pres­i­den dan Wak­il Pres­i­den.
  10. Pasal 10: MPR mem­pun­yai tugas untuk mene­tap­kan garis besar poli­tik negara dan men­gawasi pelak­sanaan­nya.
  11. Pasal 11: DPR mem­pun­yai tugas untuk mem­bu­at undang-undang dan men­gawasi jalan­nya pemer­in­ta­han.
  12. Pasal 12: Hak asasi manu­sia dijamin dan dilin­dun­gi oleh negara.
  13. Pasal 13: Keten­tu­an-keten­tu­an lain yang diper­lukan dalam men­jalankan negara diatur dalam Undang-Undang Dasar.

Isi dari Piagam Jakar­ta mencer­minkan seman­gat kebangsaan dan nasion­al­isme yang kuat pada masa itu. Piagam Jakar­ta men­ja­di lan­dasan bagi Indone­sia untuk mem­ban­gun negara yang merde­ka, bersatu, dan berdaulat.

********

Apa Pandangan Para Pendiri Bangsa Terkait Isi Mukadimah Terutama Frasa Ketuhanan dengan Kewajiban?

Pen­dahu­lu­an

Indone­sia dike­nal seba­gai negara den­gan latar belakang budaya, etnis, dan aga­ma yang beragam. Ker­aga­man ini telah men­ja­di keku­atan negara sejak awal kemerdekaan­nya.

Para pendiri bangsa menyadari hal ini, dan ter­cer­min dalam pem­bukaan kon­sti­tusi Indone­sia yang menekankan “Ketuhanan Yang Maha Esa” seba­gai dasar negara.

Namun, frasa ini juga menim­bulkan debat dan kon­tro­ver­si terkait kewa­jiban negara dan raky­at dalam mem­prak­tikkan aga­ma.

Apa yang Dimaksud dengan Mukadimah?

Mukadimah adalah bagian pen­dahu­lu­an dari sebuah teks atau doku­men, yang berfungsi untuk menggam­barkan tujuan, kon­teks, dan pan­dan­gan penulis. Mukadimah juga berisi pen­ge­nalan ter­hadap top­ik yang akan diba­has.

Pemahaman Para Pendiri Bangsa tentang Mukadimah

Para pendiri bangsa Indone­sia meman­dang mukadimah seba­gai lan­dasan uta­ma bagi pem­ben­tukan kon­sti­tusi Indone­sia.

Mere­ka meru­muskan kon­sti­tusi den­gan mem­per­hatikan aspek-aspek seper­ti hak asasi manu­sia, kead­i­lan sosial, dan ketert­iban umum.

Selain itu, para pendiri bangsa juga men­em­patkan frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa” seba­gai pijakan uta­ma dalam mukadimah seba­gai lan­dasan moral dan eti­ka.

Makna “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam mukadimah kon­sti­tusi Indone­sia memi­li­ki mak­na yang san­gat pent­ing bagi kehidu­pan beraga­ma di Indone­sia.

Frasa ini men­gan­dung arti bah­wa negara Indone­sia men­gakui keber­adaan Tuhan yang maha esa, namun tidak men­gan­jurkan satu aga­ma ter­ten­tu seba­gai aga­ma res­mi negara.

Oleh kare­na itu, Indone­sia meng­har­gai kebe­basan beraga­ma dan men­jamin per­lin­dun­gan bagi semua aga­ma dan keper­cayaan.

Kewajiban dalam Mempraktikkan Agama

Meskipun Indone­sia men­gakui kebe­basan beraga­ma, frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa” juga menim­bulkan kon­tro­ver­si terkait kewa­jiban negara dan raky­at dalam mem­prak­tikkan aga­ma.

Seba­gian orang berpen­da­p­at bah­wa frasa ini menun­jukkan bah­wa aga­ma harus men­ja­di bagian inte­gral dari kehidu­pan masyarakat Indone­sia, dan bah­wa pemer­in­tah seharus­nya mem­pro­mosikan prak­tik keaga­maan dalam kebi­jakan pub­liknya.

Namun, pan­dan­gan ini juga diban­tah oleh seba­gian orang yang men­gang­gap bah­wa negara tidak boleh ikut cam­pur dalam uru­san aga­ma, dan bah­wa kebe­basan beraga­ma harus dihor­mati tan­pa adanya cam­pur tan­gan dari pihak man­a­pun.

Konklusi

Dalam mukadimah kon­sti­tusi Indone­sia, frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa” diang­gap seba­gai pijakan uta­ma dalam menen­tukan lan­dasan moral dan eti­ka. Namun, frasa ini juga menim­bulkan kon­tro­ver­si.

KEYWORD Silakan kun­jun­gi laman di bawah ini:

  • pros­es per­an­can­gan dasar negara
  • bagaimana memak­nai piagam jakar­ta
  • pros­es per­an­can­gan dasar negara piagam jakar­ta
  • men­ga­pa sila per­ta­ma pada piagam jakar­ta diubah
  • apa pan­dan­gan para pendiri bangsa terkait isi mukadimah teruta­ma frasa ketuhanan den­gan kewa­jiban
  • apa yang men­ja­di inti dari isi piagam jakar­ta

Pos terkait